Sabtu, Juni 16, 2012

Akhi, Belajarlah Terlebih Dulu…

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar karya Ibnu Taimiyah, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama’)

A. Landasan Ucapan dan Amalan

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’: 36).

Imam Bukhari rahimahullah membuat bab dalam Shahihnya di dalam Kitab al-’Ilmu sebuah bab dengan judul ‘Ilmu sebelum berkata dan beramal, berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah.” (QS. Muhammad: 19).’ Lalu beliau berkata, “Allah memulai dengan ilmu.” (lihat Fath al-Bari [1/194])
Imam al-’Aini rahimahullah berkata, “Artinya: Ini adalah bab yang akan menerangkan bahwasanya ilmu didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan. Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu hendaknya diilmui terlebih dahulu, baru kemudian diucapkan dan diamalkan. Sehingga ilmu lebih dikedepankan daripada keduanya secara hakikatnya. Demikian pula ilmu lebih diutamakan di atas keduanya dari sisi kemuliaan. Sebab ilmu adalah amalan hati, sementara hati adalah anggota badan yang paling mulia.” (lihat ‘Umdat al-Qari [2/58])
Ibnul Munayyir rahimahullah berkata, “Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa ilmu merupakan syarat benarnya ucapan dan amalan. Sehingga keduanya tidaklah dianggap tanpanya. Maka ilmu itu lebih didahulukan daripada keduanya, sebab ilmu menjadi faktor yang akan meluruskan niat, sedangkan lurusnya niat itulah yang menjadi pelurus amalan. Penulis ingin menggarisbawahi hal itu supaya tidak muncul anggapan dari perkataan sebagian orang bahwa ‘ilmu tidak ada gunanya tanpa amalan’ yang menimbulkan sikap meremehkan ilmu dan bermudah-mudahan dalam mempelajarinya.” (lihat Fath al-Bari [1/195])
Suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Kemudian dia bertanya lagi, “Amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Lantas lelaki itu berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”. Ibnu Mas’ud pun menimpali perkataannya, “Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/133])
Qatadah berkata: Sesungguhnya setan tidak pernah membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia pun datang melalui pintu ilmu. Setan mengatakan, “Untuk apa kamu terus-menerus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan semua (ilmu) yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.” Maka Qatadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa ‘alaihis salam adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.” (QS. al-Kahfi: 66) (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136])
B. Ilmu Sebagai Bekal Dakwah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah -hai Muhammad-: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan tergolong bersama golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar kecuali orang yang padanya terdapat tiga ciri ini: lemah lembut dalam memerintah dan lemah lembut dalam melarang, bersikap adil dalam memerintah dan adil dalam melarang, serta mengetahui apa yang diperintahkan dan mengetahui apa yang dilarang.” (lihat catatan kaki al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 52 ta’liq Syaikh Ruslan)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “.. sesungguhnya perkara yang paling banyak merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Dan yang dimaksud ‘di atas bashirah’ itu bukan ilmu syari’at saja. Akan tetapi ia juga mencakup ilmu mengenai syari’at, ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi, dan ilmu tentang cara untuk mencapai tujuan dakwahnya; itulah yang dikenal dengan istilah hikmah…” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/82]). Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Adapun orang yang berdakwah tanpa bashirah/ilmu, maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.” (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 111)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan kepadaku perkara-perkara yang keji, yang tampak maupun yang tersembunyi, begitu pula dosa, perbuatan melanggar hak, berbuat syirik kepada Allah padahal tidak ada keterangan yang Allah turunkan untuk membenarkannya, dan Allah juga mengharamkan kalian berbicara tentang Allah tanpa landasan ilmu.” (QS. al-A’raaf: 33)
Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Perkara yang paling penting bagi seorang da’i adalah memahami apa yang dia dakwahkan secara global maupun terperinci, supaya dia tidak terjerumus dalam tindakan berfatwa tanpa ilmu.” (lihat transkrip Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 7)
C. Ilmu Ada Pada Atsar

Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “Suatu cacat yang banyak menimpa putra-putra umat ini adalah bahwasanya mereka tidak mengikuti prinsip yang telah dijamin keterjagaannya. Padahal, prinsip itu merupakan jalan kenabian. Keterjagaan sesungguhnya hanya ada pada wahyu, bukan pemikiran. Keterjagaan itu hanyalah ada pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 376). Beliau juga menegaskan, “Sesungguhnya hakikat dari jalan kenabian itu adalah dengan mengikuti atsar/riwayat para pendahulu. Barangsiapa yang menyelisihi jalan ini maka dia tidak berjalan di atas manhaj nubuwwah.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 377)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 80). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksaan yang sangat pedih.” (QS. an-Nuur: 63)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada amir/pemimpin maka dia  taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin maka dia durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1835)
Dari Ubaidullah bin Abi Rafi’, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jangan sampai aku jumpai ada diantara kalian seseorang yang bersandar di atas pembaringannya sementara telah datang kepadanya perintah diantara perintah yang aku berikan atau larangan yang aku sampaikan lantas dia justru berkata, “Kami tidak tahu. Apa yang kami temukan dalam Kitabullah maka itulah yang kami ikuti!”.” (HR. Abu Dawud no. 4605, disahihkan Syaikh al-Albani)
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Semua yang sahih berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa syari’at maupun keterangan maka semua itu adalah kebenaran.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 331)
Imam al-Auza’i rahimahullah berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa yang datang dari para sahabat  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ilmu apapun yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah ilmu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 390-391)
Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu tetap berpegang dengan atsar dan jalan kaum salaf, dan jauhilah olehmu segala ajaran yang diada-adakan, karena itu adalah bid’ah.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 46). Imam Abul Qasim at-Taimi rahimahullah berkata, “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah komitmen mereka untuk ittiba’ kepada salafus shalih dan meninggalkan segala ajaran yang bid’ah dan diada-adakan.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 49)
Imam al-Ashbahani rahimahullah berkata, “Sudah semestinya setiap orang untuk mewaspadai berbagai perkara yang diada-adakan. Karena setiap ajaran yang diada-adakan adalah bid’ah. Sementara Sunnah itu hanya ada pada membenarkan atsar-atsar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap penentangan kepadanya dengan pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Pembicaraan ilmu kalam/filsafat, permusuhan dan perdebatan dalam urusan agama adalah perkara yang diada-adakan. Hal itu akan menanamkan keragu-raguan di dalam hati. Sehingga akan menghalangi dari mengenali kebenaran. Meskipun demikian, ilmu bukan semata-mata diperoleh dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi hakikat ilmu itu adalah dengan ittiba’ dan beramal dengannya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 335)
Imam al-Ashbahani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya pemisah antara kita dengan ahli bid’ah adalah dalam masalah akal. Karena sesungguhnya mereka membangun agamanya di atas pemikiran akal semata, dan mereka menjadikan ittiba’ dan atsar harus mengikuti hasil pemikiran mereka. Adapun Ahlus Sunnah, maka mereka mengatakan : pondasi agama adalah ittiba’ sedangkan pemikiran itu mengikutinya. Sebab seandainya asas agama itu adalah pemikiran niscaya umat manusia tidak perlu bimbingan wahyu, tidak butuh kepada para nabi. Kalau memang seperti itu niscaya sia-sialah makna perintah dan larangan. Setiap orang pun akan berbicara dengan seenaknya. Dan kalau seandainya agama itu memang dibangun di atas hasil pemikiran niscaya diperbolehkan bagi orang-orang beriman untuk tidak menerima ajaran apapun kecuali apabila pemikiran (logika) mereka telah bisa menerimanya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 336)
Beliau rahimahullah juga berkata, “Kita tidak menentang Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan logika. Karena sesungguhnya agama ini diajarkan dengan dasar ketundukan dan kepasrahan. Bukan dengan mengembalikan segala sesuatu kepada logika. Karena hakikat logika yang benar adalah yang membuat orang menerima Sunnah. Adapun logika yang justru membuat orang membatalkan Sunnah, maka sesungguhnya itu adalah kebodohan dan bukan akal/logika yang benar.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 337)

Imam ad-Darimi meriwayatkan dalam Sunannya, demikian juga al-Ajurri dalam asy-Syari’ah, dari az-Zuhri rahimahullah, beliau berkata, “Para ulama kami dahulu senantiasa mengatakan, “Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan.”.” Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Kamu tidak akan salah jalan selama kamu tetap setia mengikuti atsar.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 340). ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu berpegang teguh dengan Sunnah, karena ia -dengan izin Allah- akan menjaga dirimu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 341)
D. Mengikuti Pemahaman Para Sahabat (Salafus Shalih)
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa kaum ahli kitab sebelum kalian berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sungguh agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga; yaitu al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bani Isra’il berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.” Mereka pun bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan: Pada suatu hari tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat mengimami kami, kemudian beliau menghadap kepada kami. Beliau pun memberikan nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang meneteskan air mata dan membuat hati merasa takut. Maka ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah. Apakah yang hendak anda pesankan kepada kami?”. Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan patuh, meskipun pemimpinmu adalah seorang budak Habasyi. Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap ajaran yang diada-adakan itu bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, disahihkan Syaikh al-Albani)
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kami mengikuti Sunnah dan Jama’ah, dan kami menjauhi ajaran-ajaran yang nyleneh, perselisihan, dan perpecahan.” (lihat al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hasyiyah Syaikh Muhammad bin Mani’ dan ta’liq Syaikh Bin Baz, hal. 69 cet. Adhwa’ as-Salaf, dan al-Minhah al-Ilahiyah, hal. 347). Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami)
E. Tinggalkan Semua Kelompok Menyimpang

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Dahulu orang-orang sering bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir hal itu akan menimpa diriku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami dahulu berada dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah pun menganugerahkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada.” Aku bertanya lagi, “Apakah sesudah keburukan itu masih ada kebaikan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada. Akan tetapi ada kekeruhan di dalamnya.” Aku pun bertanya, “Apakah kekeruhan itu?”. Beliau menjawab, “Yaitu suatu kaum yang mengikuti jalan akan tetapi bukan jalan/Sunnah yang aku tinggalkan, dan mereka mengikuti petunjuk tetapi bukan petunjuk dariku. Kamu bisa mengenali mereka dan mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu masih ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada. Yaitu para penyeru kepada pintu Jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan itu maka mereka akan membuatnya terlempar ke dalam neraka.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Jelaskan kepada kami ciri-ciri mereka.” Beliau menjawab, “Ya. Mereka adalah sekelompok kaum dari kulit bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana menurut anda jika aku mengalami hal itu, apa yang harus aku lakukan?”. Beliau bersabda, “Hendaknya kamu tetap bergabung dengan jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku pun berkata, “Kalau ternyata tidak ada jama’ah/persatuan dan tidak ada lagi imam/pemimpin?”. Beliau menjawab, “Maka tinggalkanlah semua kelompok-kelompok yang ada, meskipun kamu harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dan kamu tetap berada dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847)
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “al-Ikhwan al-Muslimun, apakah mereka berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Para pengikut Jama’ah Tabligh… Harokah… Takfiri… Pemuja Kubur… Penyebar Khurafat… dan para pengikut Hizbut Tahrir… Ini semua adalah kelompok-kelompok. Apakah mereka berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Sama sekali tidak. Kecuali apabila bisa bertemu antara timur dan barat. Kecuali apabila kamu sanggup untuk menyatukan air dengan api dengan  tanganmu. Sungguh, tidak mungkin. Ini adalah mustahil. Sesungguhnya orang-orang yang berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hanyalah ahlul hadits, yaitu orang-orang yang setia mengikuti jalan nubuwwah. Mereka berada di atas jalan yang terpuji. Mereka adalah orang-orang yang berjalan mengikuti atsar. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam hal berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta menggigit keduanya dengan gigi-gigi geraham, dan mendahulukan keduanya di atas semua ucapan dan petunjuk. Baik dalam masalah akidah maupun ibadah, muamalah maupun akhlak, politik maupun kemasyarakatan.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 388)
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “Dengan demikian, ilmu adalah apa yang diajarkan oleh para Sahabat -semoga Allah meridhai mereka- sedangkan para sahabat tidaklah membuat ajaran-ajaran baru (bid’ah). Karena sesungguhnya mereka itu semata-mata melakukan ittiba’/mengikuti tuntunan yang ada. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan ittiba’, yang jelas-jelas berseberangan dengan jalan orang-orang yang suka membuat bid’ah. Jalan yang mereka tempuh amat sangat terang dalam hal memerangi para penyeru kebid’ahan. Sebab mereka sendirilah yang menukilkan kepada kita dalil-dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk menjauhi ahlul bid’ah, memusuhi pemujanya, dan supaya berpegang teguh dengan Sunnah dan mencintai para pengikutnya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 393)
Wallahu a’lam bish shawab.
http://abumushlih.com/akhi-belajarlah-terlebih-dulu.html/

Minggu, Juni 03, 2012

MENGENAL ALLAH subhanahu wata’aala.

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…

Bismillaahirrohmaanirrohiim ..

Kajian Islam :Tiga Landasan Utamaoleh : Syaikh Muhammad At-Tamimi

MENGENAL ALLAH subhanahu wata’aala

Kilauan Mutiara Hikmah Dari Perkataan Salaful Ummah
Apabila anda ditanya; Siapakah Tuhanmu? Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikaruniakan-Nya. Dan Dialah Sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haq selain Dia. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam.” (Surah Al-Fatihah: 2)

Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah bagian dari semesta alam.
Selanjutnya, jika anda ditanya: Melalui apa anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah anda jawab: Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah tujuh langit dan tujuh bumi serta yang ada di antara keduanya. Firman Allah subhanahu wata’aala yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah.” (Surah Fushsilat: 37).

Dan firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Mahasuci Allah Tuhan semesta alam” (Surah Al-A’raf: 54)

Tuhan inilah yang haq disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala yang artinya: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (Tuhan) yang telah menjadikan untukmu bumi ini sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Surah Al-Baqarah: 21-22).

Ibnu Katsir-(1) rahimahullah, mengatakan: “Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah.”-(2) Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah subhanahu wata’aala itu, antara lain: Islam-(3), iman, ihsan, doa, khauf (takut), raja’ (pengharapan), tawakal, raghbah (penuh minat), rahbah (cemas), khusyu’ (tunduk), khasyyah (takut), inabah (kembali kepada Allah), isti’anah (memohon pertolongan), isti’adzah (memohon perlindungan), istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dzabh (penyembelihan), nadzar, dan macam-macam ibadah lainya yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’aala.

Allah subhanahu wata’aala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Surah Al-Jinn: 18)

Karena itu, barangsiapa menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah subhanahu wata’aala, maka ia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalil pun baginya tentang ini, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (Surah Al-Mu’minuun: 117)

Dalil macam-macam ibadah:
*Dalil doa:
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kamu kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu’. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” (Surah Ghaafir: 60)

Dan diriwayatkan dalam hadits:

الدُّعَـاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ.

“Doa itu adalah sari ibadah”-(4)*Dalil khauf (takut)

Firman Allah subhanahu wata’aala yang artinya: “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Surah Ali ‘Imran: 175)

*Dalil raja’ (pengharapan):
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Surah Al-Kahfi: 110)

*Dalil tawakkal (berserah diri):
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan hanya kepada Allahlah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Surah Al-Maa’idah: 23)
Dan firman-Nya yang artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dialah Yang Mencukupinya.” (Surah Ath-Thalaaq: 3).

*Dalil raghbah (penuh minat), rahbah (cemas) dan khusyu’ (tunduk):
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdoa kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami.” (Surah Al-Anbiyaa’: 90).*Dalil khasyyah (takut)
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (Surah Al-Baqarah: 150).

*Dalil inabah (kembali kepada Allah):
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan kembalilah kepda Tuhanmu serta berserahdirilah kepada-Nya (dengan menaati perintah-Nya) sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong lagi.” (Surah Az-Zumar: 54)

*Dalil isti’anah (memohon pertolongan):
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah: 4)

Dan diriwayatkan dalam hadits:

إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ.

“Apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.”-(5)

*Dalil isti’adzah (memohon pelindungan):
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Shubuh.” (Surah Al-Falaq: 1)
Dan firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Penguasa manusia…’.” (Surah An-Naas: 1-2)

*Dalil istighatsah (memohon pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan atau diselamatkan):

Firman Allah Ta’ala yang artinya: “(Ingatlah) tatkala kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu…”. (Surah Al-Anfal: 9)
Dalil dzabh (pemyembelihan):
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, penyem-belihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam; tiada sesuatupun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang-orang yang pertama kali berserah diri kepada-Nya)’”. (Surah Al-An’aam: 162-163)

Dan dalil dari Sunnah:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ.

“Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah..”.-(6)*

Dalil nadzar:
Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana.” (Surah Al-Insaan: 7).

CATATAN KAKIo
(1). Abu Al-Fidaa’: Isma’il bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (701-774 H = 1302 – 1373 M). Seorang ahli hadits, tafsir, fiqh dan sejarah. Di antara karyanya: Tafsir Al-Qur’an Al-Azhiim, Thabaqaat Al-Fuqahaa’ Asy-Syaafi’iyyin, Al-Bidaayah Wan-Nihaayah (Sejarah), Ikhtisar Uluum Al-Hadits, Syarh Shahih Al-Bukhari (belum sempat diselesaikan)o
(2). Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhiim, (Cairo: Maktabah Dar At-Turats, 1400 H). jilid 1, hal. 57.o
(3). Islam, yang dimaksud di sini, adalah: syahadat, shalat, shiyam, zakat dan haji.o
(4). Hadits riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ Ash-Shahih, kitab Ad-Da’awaaat. Bab 1. Dan maksud hadits ini: Bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti; mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll. Semestinya diiringi dengan permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu, doa (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, sebagai sari atau otak ibadah, karena senantiasa harus mengiringi gerak ibadah.o
(5). Hadits riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jami’ Ash-Shahih, kitab Shifaat Al-Qiyammah war Raqaa’iq wa-l-Wara’, bab 59; dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad (Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1403 H), jilid 1, hal. 293, 303, 307.o
(6). Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al-Adhaahi, bab 8; dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108 dan 152.

Jumat, Mei 11, 2012

Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…

Kisah contoh kesabaran yang layak anda baca:

Abu Ibrahim bercerita:

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..

Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh… ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi… kedua tangannya buntung… matanya buta… dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya…

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yg mengurusinya? atau isteri yg menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”

“Assalaamu’alaikum… aku seorang yg tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.

“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.

“Aku seorang yg sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” jawabnya.

“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yg diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yg dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?

“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”

“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yg dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yg terjadi di sekelilingku?” tanyanya.

“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” katanya.

“Banyak juga…” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb”, katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yg dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.

“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yg menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”

“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… dan aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yg musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yg lumpuh, ada yg kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yg kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yg menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh… hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:

“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”

“Iya.. apa permintaanmu?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yg tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yg memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yg tua renta dan buta, yg tidak bisa mencarinya…”

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yg mengerumuni sesuatu… maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.

Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…

Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yg mendalam…

Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?

Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyu ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yg memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yg malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yg lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”

“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayyub…” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yg ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yg membantuku mengurus jenazahnya…

Maka kudapati ada tiga orang yg mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…

Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yg Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yg wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yg mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”

“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”

Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…

Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yg sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yg hijau… maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah… apa yg menjadikanmu seperti yg kulihat ini?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembalihttp://www.facebook.com/moslem.channel/posts/145393978918643

Minggu, April 22, 2012

‎ When U Fall in Love, Beware of Syaithan

Ketika kita jatuh cinta, dan mendambakan seseorang jadi jodoh kita. . . .
Namun kita tetap diam, mengendalikan hati untuk tidak tergesa-gesa mengutarakannya, maka yang ada adalah harapan. . .
Do'a kebaikan untuknya tak lupa kta panjatkan..
Semoga ia mampu menjadi hamba yang beriman..
Mengisi hari dengan perbaikan..
Semoga saja Allah mempertemukan, dan mempersatukan di saat yang tepat..

Saat dimana hanya ada perkenalan dengan cara islam yang berlanjut dengan lamaran, bukan lewat penjajakan yang bertema Pacaran.

Namun, kita pun tak kan menyalahkan .
Jika Allah TIDAK menghendaki kita berjodoh dengannya karena mungkin ada seseorang yang lebih baik dari kita untuknya, dana ada yng lebih baik dari dia untuk kita. . .
itulah nilai kepasrahan.

Namun.. Ketika kita jatuh cinta..
Lalu kita menjalin ikatan dengannya. Meski hanya di dunia maya..
Meski hanya ingin lebih jauh mengenalnya..
Maka Syaitan akan ikut mengambil bagian

Menyiksa hatimu dengan rindu yang menggebu.. Kemudian rindu berganti obrolan penuh kehangatan, tentang masa depan yang akan kita bangun bersama. Senda gurau dan kemesraan yang kita bina seolah terasa indah , seolah tak ada yang salah. Kita tidak sadar bahwa apa yang sedang kita lakukan sekarang belum lah halal untuk dilakukan, dia bukan mahrom mu

Kau telah lalai dari mengingat-Nya, kau telah lupa ada Allah yang mengawasimu. . .mengawasi kemesraan yang belum berhak kau nikmati bersamanya.
Kerinduan berlanjut dengan impian sebuah pertemuan, Pertemuan yang berujung dengan sebuah gandengan.. Pertemuan yang berujung dengan pelukan kemudian hati menjadi bergantung padanya. . .

Seolah yang menciptakan kebahagiaan di dunia kita hanyalah dia
Seolah tanpa dia hidup kita tak kan ada artinya
Seolah tanpa dia kita kan kehilangan nyawa.
Akhirnya.. Ketika perpisahan terjadi, karena Allah tak menghendaki kau dan dengannya hidup bersama. Kau terpuruk dan putus asa..
Hidup seolah tak lagi berwarna, bahkan tak jarang sampai tak sudi lagi hidup di dunia.

Lalu ketika cinta terhalang perbedaan agama, hukum Allah berani dilanggarnya. Padahal Allah jelas tak mengizinkan, seorang muslim/muslimah menikah dengan orang kafir sebelum mereka beriman meskipun mereka menarik hatimu atau ketika sang kekasih mengjaknya pindah agama.. atas nama cinta murtad pun berani dipilihnya.. Naudzubillah...

Semua orang berhak mencintai dan dicintai.. Tapi bukan cinta yang tak diridhai.
Cinta selain Karena-Nya hanya akan membawa kita pada penyesalan.. Penyesalan abadi. Kebahagiaan yang harus dipilih seorang muslim haruslah kebhagiaan yang abadi.. Kebahagiaan yang hakiki.. Kebahagiaan yang ada disisi-Nya. Di Jannah-Nya.
Maka.. Mari saling mengingatkan dalam menetapi kesabaran..
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-‘Ankabuut [29]: 2-3)

Segala sesuatu yang hendak menjauhkan kita dari-Nya hanyalah ujian..
Segala sesuatu yang hendak memaksa kita melanggar aturann-Nya hanyalah ujian..
Segala sesuatu yang hendak membuat kita mendustai Janji-Nya hanyalah ujian..
Mari mendekatkan diri pada-Nya, mari mencintai-Nya dengan sebenar-benar mencinta.. Maka kau akan tahu, sesuatu yang membuatmu hilang kenikmatan menyembah pada-Nya akan segera engkau tinggalkan.

Izinkan Kami menikah tanpa Pacaran, Dengan penuh Kesabaran.. Dengan Penuh Perjuangan, Kemenangan itu ada jadwalnya, dan semua akan menjadi indah pada saatnya nanti dengan Ridha-Mu..
Aamiin..

Senin, Maret 05, 2012

::: MERAIH PERTOLONGAN ALLAH :::


Bismillahirrahmanirrahim

Saudaraku Fillah.....

Abdullah bin Abbas pernah bercerita.

“Suatu hari aku berjalan di belakang Rasulullah SAW. Saat itu beliau bersabda, ”Nak, kuajarkan kepadamu beberapa kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niascaya Dia akan senantiasa bersamamu. Bila kau minta, maka mintalah kepada Allah. Bila kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua manusia bersatu untuk memberikan sebuah kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis untukmu. Jika semua manusia bersatu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering”.


Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi ini diungkapkan pula dalam redaksi berbeda.

“Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah diwaktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan kesulitan”.


Saudaraku, , padat namun cakupan maknanya teramat dalam dan luas. Dalam hadis Rasulullah Saw. memberikan kunci-kunci bagaimana mendapatkan pertolongan Allah. Satu pesan utama hadis ini adalah “penghambaan” kepada Allah. Laa haula walaa quwwata illa billahil. Tiada daya maupun upaya selain atas kekuatan Allah. Saat kita menyadari kekerdilan diri di hadapan Allah, maka pertolongan Allah akan mendatangi kita. Bukankah kita makhluk lemah, sedangkan Allah Maha Menggenggam segalanya?


Saya bertanyalah kepada seorang guru, “Bagaimana caranya agar doa kita cepat dikabul oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Saat kau berdoa, saat kau munajat, atau saat kau sujud, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkannya. Semoga rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu.”


Pertolongan Allah itu pasti. "Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah pasti akan menolong kalian dan mengokohkan pijakan kalian," (Qs. Muhammad: 7).


Jadi, kunci terpenting agar kita ditolong Allah adalah dengan sungguh-sungguh menghamba kepada-Nya. Saat kita ingin dimuliakan Allah, maka akuilah kehinaan kita di hadapan Allah. Saat kita ingin dilebihkan, maka akui kekurangan kita di hadapan Allah. Saat kita ingin dikuatkan Allah, maka akui kelemahan kita di selemah-lemahnya di hadapan Allah.


Seorang ulama bijak berkata,
“Buktikan dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuatan-Nya.”


Kesimpulannya, Allah menjadikan pertolongan-Nya pada orang beriman hanya bila ada upaya dan usaha dari diri mereka sendiri. Ia tidak memberi pertolongan sebagai sesuatu yang dijatuhkan begitu saja dari langit. Apa saja upaya yang harus dilakukan sehingga kita layak mendapat pertolongnan Allah?


~ Pertama, membersihkan niat beramal dari segala motivasi yang tidak bersih. Itulah ikhlas. Ikhlas adalah kunci pertama yang paling penting bagi terbukanya pintu pertolongan Allah. Nilai suatu pekerjaan sangat tergantung dari kadar keikhlasan pelakunya. Meski secara zahir suatu pekerjaan itu berat dan tampaknya untuk membela kepentingan Islam, namun bila pelakunya tidak memiliki niat yang ikhlash, maka amalnya akan sia-sia. Kalau tidak justru mendatangkan siksa.


~ Kedua, berdo’a dengan penuh kepasrahan pada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Berdo‘alah kepada Rabbmu dengan rasa takut dan suara lirih …”(Qs. Al-A’raf: 55) Berdo’a dengan rasa takut dan suara lirih, merupakan salah satu bentuk kesungguhan dan kepasrahan di hadapan Allah


~ Ketiga, yakini bahwa kehidupan ini adalah ladang amal yang tanpa batas untuk meraih kebahagiaan di akhirat.


~ Keempat, hindarilah mengatakan bahwa kita sudah habis kesabaran menghadapi keadaan yang tidak sesuai


~ Kelima, pantang berputus asa dari rahmat Allah. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tiga golongan yang kelak tidak akan diperiksa lagi perkaranya (di akhirat). Yaitu …. orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah.” (HR. Thabrani, Abu Ya’la, dan Bukhari dalam kitab Adab)


~ Keenam, tetap memelihara sikap istiqamah. Utamanya dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat. Orang yang istiqamah atau berpegang teguh pada petunjuk Allah akan selalu tertuntun pada kebenaran. Orang yang istiqamah menjalani kehidupan di dunia ini akan dibebaskan oleh Allah dari perasaan resah, takut, dan khawatir menghadapi segala ujian dan cobaan hidup.


~ Ketujuh, jangan sekali-kali menyalahkan ketentuan Allah. Apalagi bila kemudian dilanjutkan dengan do’a untuk keburukan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sekali-kali seorang muslim di bumi ini berdo’a pada Allah meminta suatu permintaan, melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta atau memalingkan darinya suatu kejahatan yang semisal dengan permintaannya, selagi ia tidak berdo’a meminta suatu dosa atau memutuskan silaturahmi.” Maka ada seseorang berkata, “kalau demikian, kami akan memperbanyak (berdo’a)." Beliau menjawab, “Allah Maha Memberi." (HR. Tirmidzi),


~ Kedelapan, pelajari dan lakukan sebab-sebab logis bagi datangnya pertolongan Allah. Pertolongan Allah tidak akan datang bagi seseorang yang tidak mau melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan keberhasilan, sesuai sunnatullah dalam alam semesta. Keinginan untuk lulus dalam ujian, harus dibarengi dengan upaya belajar dengan baik.


Saudaraku, sekali lagi, kekuatan terbesar yang kita miliki bukanlah kekuatan fisik, intelektual, kekuasaan ataupun harta kekayaan. Kekuatan terbesar kita adalah “pertolongan Allah”. Pertolongan Allah ini sangat dipengaruhi kualitas keyakinan kita kepada-Nya. Kualitas keyakinan biasanya akan melahirkan kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah akan melahirkan akhlakul karimah, seperti kualitas sabar, syukur, ikhlas, tawadhu, iffah, zuhud, qanaah, dsb. Karena itu, kemuliaan akhlak tergantung dari sejauh mana kita mengenal Allah.


Yakinlah, Allah sungguh sayang dan sangat dekat kepada hamba-hamba Nya , jauh lebih dekat dari urat lehernya ... Maka beramal ibadah dan berdoalah dengan ikhlas penuh penghambaan dan segenap Cintamu kepada Nya ..





Wallaahu a’lam
Salam santun ukhuwah & keep istiqomah

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=295023030564396&set=a.244521135614586.58029.153300751403292&type=1



             

Sabtu, Maret 03, 2012

Rahasia Jodoh

 
Makhluk yang pertama kali Dicipta Allah adalah al-qalam. Dengan al-qalam, Allah menuliskan takdir manusia dalam Lauhil Mahfuzh, induk segala kitab. Salah satu yang tertulis di sana, adalah jodoh. Jadi, jodoh adalah sebuah ketetapan dari Allah Azza wa Jalla. Ia akan datang, meskipun saat ini barangkali kita belum siap, atau tak juga datang meskipun kita merasa sangat siap. Seorang guru saya pernah mengatakan, pernikahan itu ibarat kematian, kita tak bisa memprediksi, hanya bisa mempersiapkan.
Jadi, sikap terbaik menghadapi hal yang satu ini adalah TAWAKAL. Tetapi, jangan abaikan ikhtiar. Ikhtiar sangat perlu, hanya saja, Allah memiliki sifat Qudrat dan Iradat yang perlu kita hadapi dengan kepasrahan.

Ada beberapa pandangan saya mengenai pernikahan, semoga bisa menjadi bahan diskusi.

1. Pernikahan adalah bentuk ibadah, jadi jangan pernah ada kata ITSAR dalam pernikahan. Jika ada seorang meminang, dan secara dien dia baik, kemudian kita merasa mantap, mengapa kita menolaknya?

2. Sebuah ibadah, bisa diterima atau tidak, tergantung NIAT dan cara pelaksanaannya. Maka, nikah bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang. Ia bahkan awal dari sebuah perjalanan yang melelahkan. Niat bisa berubah di tengah-tengah proses, bahkan menjelang akhir proses, kematian. Maka, mari kita selalu meng-up-grade niat, dan memperbaiki cara kita berinteraksi dengan pasangan kita, meski usia pernikahan sudah tak terbilang muda. Lima tahun, sepuluh tahun, tiga puluh tahun?

3. Nikah adalah separuh dien. Jika baik, ia adalah separuh jalan menuju surga. Tetapi jika buruk, maka… ia adalah separuh jalan menuju neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.

4. Nikah bukanlah sebuah pesta pora. Bukanlah prestasi. Bukanlah sebuah kemenangan. Bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan. Jadi, jagalah sikap kita. Seringkali para pasangan muda terlalu over memamerkan kemesraannya di hadapan orang-orang yang masih lajang.

5. Ketika kita menikah, amanah kita bertambah. Ketika punya anak, semakin bertambah lagi. Maka, hisab kita di akhirat kelak, akan semakin panjang. “Bagaimana kau bersikap terhadap pasanganmu, anak-anakmu, mertuamu, adik-kakak iparmu, dst…” Jadi, wahai para lajang, yang telah ingin menikah namun karena takdir Allah, pasangan belum datang, sesungguhnya beban antum wa antunna kelak di akhirat, jauuuuuh lebih ringan daripada para ibu, para bapak, yang kerepotan dengan anak-anak mereka. Bukankah Surga itu jauh lebih indah daripada apapun? Bukankah surga, dan ridha-Nya, adalah tujuan utama setiap manusia? Sedangkan menikah, berkeluarga, hanyalah sarana. Ketika Allah menakdirkan kita untuk tetap lajang, sesungguhnya jika kita ridho, maka kita Allah telah memberikan beban yang lebih ringan untuk menuju surga.

6. Akan tetapi, menikah tetaplah harus diusahakan. Ikhtiar harus dioptimalkan. Maka para ikhwan, mari berusaha lebih kuat dalam mencari ma’isyah. Ayo bekerja lebih keras lagi dalam meng-up grade diri. Jangan bermalas-malasan. Lihatlah deretan para akhwat yang tengah menanti… kasihan sekali mereka karena antum seringkali terlalu banyak pertimbangan. Ayo bina para lelaki yang lain, agar mereka bisa seshaleh antum, karena bagaimanapun juga, populasi lelaki shaleh saat ini begitu sedikit dibanding perempuan shalihah. Dan para perempuan shalihah, ayo perkuat diri kita. Bersiaplah menjadi Ummu Sulaim-Ummu Sulaim baru, yang mampu menghijrahkan Abu Thalhah dan menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mahar pernikahan mereka. Dan wahai para murabbi dan murabbiyyah… marilah kita berpikir lebih keras… lebih keras dan lebih keras lagi… agar kita mampu mengikhtiarkan perjodohan saudara-saudari kita, dengan proses yang indah dan bersih.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rabu, Februari 29, 2012

Berhati-hatilah dalam berucap…

  
Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai nikmat kepada kita, kesehatan, keamanan, ketenangan, rizki berupa makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, dan yang terpenting yaitu nikmat iman. Sungguh, dalam setiap tarikan nafas, ada nikmat yang tak terhingga. Dari mulai tidur, bangun dari tidur hingga tidur kembali, ada nikmat yang tiada terkira.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling sempurna diantara makhluk lainnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al quran:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Israa’ : 70).
Namun demikian, kemuliaan manusia akan terjaga jika manusia tersebut menggunakan segala kelebihan yang ada dalam dirinya secara seimbang dan optimal sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Diantara kelebihan yang harus kita jaga yaitu lisan (ucapan).
Seseorang yang mampu menjaga lisannya termasuk berjihad di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik orang mukmin, atau sebaik-baik kaum mukminin yang terbaik Islamnya adalah (ketika) orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Orang mukmin yang paling utama adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya. Orang muhajirin yang paling utama adalah orang yang berhijrah dari apa-apa yang Allah larang. Dan jihad yang paling utama adalah orang yang dapat melawan hawa nafsunya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Imam Tabrani).
Salah satu cara kita untuk menjaga lisan yaitu dengan tidak mengolok-olok orang lain, misalnya dengan memanggil seseorang dengan ‘sebutan’ yang tidak ia sukai. Sering kali kita lengah dengan memanggil orang lain sesuai dengan keadaan fisik yang melekat padanya, misalnya kita memanggil teman kita yang memiliki kulit gelap dengan ‘si hitam’, teman kita yang bertubuh pendek kita panggil ‘si pendek’ … dengan ‘enteng’ kita memanggil teman kita TBC (‘telinga banyak coroknya’ ). Sebutan tersebut mungkin kita anggap biasa, hanya bercanda. Tetapi tahukah kita? Apa yang teman kita rasakan saat dia dipanggil dengan sebutan seperti itu? Tak terpikirkah pada diri kita bahwa mungkin ia telah tersakiti hatinya? Padahal dalam Al quran Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang kita untuk memanggil dengan galar yang buruk.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujuraat : 11).
Melalui ayat ini jelaslah bahwa perbuatan mengejek, mencela, mencaci-maki seseorang, apalagi jika ia seorang muslim adalah termasuk perbuatan zalim. Janganlah kita merasa diri kita lebih baik dari orang lain dengan mengolok-olok, karena, bisa jadi orang yang kita olok-olok ternyata jauh lebih baik dari kita.
Berhati-hatilah dalam berucap anakku…
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang berkata satu kalimat yang ia tidak menganggap apa-apa, tetapi memasukkan ia sejauh tujuh puluh tahun ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Marilah kita menjaga lisan kita. Setiap ucapan yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.
Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kejahatan telinga kami, dari kejahatan pendengaran kami, dan dari kejahatan penglihatan kami, dan dari kejahatan lisan kami, dan dari kejahatan hati kami…Aamiin