Kami sempat terkesima mendengar kata-kata
Ustadz Armen Halim Naro, Lc. rahimahullah saat memotivasi tentang
istighfar, beliau berkata, “Istighfar kita yang naik ke langit mencegah
turunnya musibah ke bumi”. Ini membuat kami sedikit merenung mengenai
diri kami dan kami mencoba untuk membaginya.
Fenomena Jejaring Sosial
Ternyata kami sangat jauh menerapkan hal ini. Setelah
dipikir-pikir ada satu yang menjadi penyebabnya yaitu maraknya jejaring
sosial seperti facebook, twitter, google+ dan lain-lain. Inilah membuat
kami lalai dan sangat jauh dari kebiasaan orang-orang shalih dan ulama
yaitu beristighfar di mana pun, kapan pun (tentu bukan di WC, toilet
dll), mengucapkan “astagfirullah”,” allahummagfirli” di sela-sela waktu,
di sela-sela kesempatan, di sela-sela kesibukan, ketika menunggu,
ketika naik kendaraan, ketika berjalan kaki, ketika menanti jemputan dan
ketika kita mampu mencuri sedikit waktu yang sangat mahal dalam
berbagai kesibukan.
Para Salaf Mencuri Waktu untuk Beristighfar
Jika mengingat pesan para salaf (pendahulu) kita, maka kita sangat malu
menisbatkan diri kepada mereka. Luqman pernah berpesan kepada anaknya,
يَا بُنِيَّ عَوِّدْ لِسَانَكَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، فَإِنَّ لِلَّهِ سَاعَاتٍ لَا يَرُدَّ فِيهَا سَائِلًا
“Wahai anakku biasakan lisanmu dengan ucapan: [اللهم اغفر لي ]
“Allahummaghfirli (Ya Allah, ampunilah aku)”, karena Allah memiliki
waktu-waktu yang tidak ditolak permintaan hamba-Nya di waktu itu.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
أَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ،
وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ أَيْنَمَا
كُنْتُمْ، فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ
”Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, meja-meja makan, jalan-jalan,
pasar-pasar dan majelis-majelis kalian di manapun kalian berada. Karena
kalian tidak tahu kapan turunnya pengampunan Allah”. (Jami’ Al-ulum wal
hikam hal. 535, Darul Aqidah, Kairo, cet.1, 1422 H)
Belum lagi
kisah Imam Malik rahimahullah yang mencuri waktunya yang sangat mahal.
Ketika penyambung suaranya berbicara saat majelis kajian (saat itu belum
ada pengeras suara, maka ada beberapa penyambung suara berbicara
setelah imam Malik berbicara). Maka waktu longgar tersebut dimanfaatkan
oleh beliau untuk beristighfar kepada Allah Ta’ala. Subhanallah, sungguh
sangat jauh dari kebiasaan kita.
Bijak dalam Menyikapi Jejaring Sosial
Kami baru teradar bahwa facebook dan jejaring sosial menjadi penggantinya. Mungkin seperti ini rutinitasnya:
Setelah shalat Shubuh langsung buka laptop kemudian login,
membuka-buka status yang sudah di update tadi malam (padahal statusnya
kurang bermanfaat, sekedar curhat atau main-main).
Kemudian di
tempat kerja, ada waktu istirahat sedikit, langsung buka facebook,
update status saat kerja, terkadang status mengeluh dengan pekerjaan,
membicarakan atasan, membicarakan hal-hal yang kurang penting.
Sore hari setelah istirahat juga langsung buka facebook, mencari-cari
berita terbaru dari link-link yang ada. Awalnya berniat membuka
link-link bermanfaat. Akan tetapi ada juga yang friend yang menaruh link
kurang bermanfaat, rasa penasaran muncul akhirnya sibuk dengan hal yang
kurang bermanfaat. Atau akhirnya terlalu sibuk mengikuti perkembangan
politik dan artis. “Kasus ini, kasus itu, skandal ini, skandal itu”.
Boleh sekedar tahu tetapi terkadang kita terjerumus rasa penasaran
akhirnya terlalu mengikuti dan lalai. Padahal jika mendengar kasus-kasus
tersebut kebanyakan kita sakit hati dengan kasus-kasus korupsi,
ketidakadilan hukum dan kriminalitas yang telalu bebas disiarkan.
Maghribnya juga terkadang ada saja yang buka update status.
Kemudian ba’da Isya menjelang tidur, buka facebook lagi,
mencurahkan uneg-uneg, kejadian dan pengalaman selama sehari, terkadang
status yang bisa menghapus pahala kita karena riya’, seperti kita sudah
melakukan ibadah ini dan itu, baru selsai buka puasa sunnah dan
lain-lainnya.
Jika seperti ini, kapan kita menuntut ilmu,
berdakwah, waktu untuk keluarga, bersosialisasi dengan masyarakat dan
beramal? Memang berniat menuntut ilmu di dunia maya, tetapi menuntut
ilmu di dunia nyata waktunya harus lebih banyak, jelas berbeda
keutamaannya menghadiri majelis ilmu. Memang berniat berdakwah di dunia
maya, tetapi berdakwah di dunia nyata porsinya harus lebih besar,
kepada orang tua, kerabat dan lain-lain.
Terkadang ada beberapa
orang yang terkesan sangat shalih dan alim di facebook, sangat sering
update status agama, sangat sering berbicara agama, memberi link-link
tentang shalat malam, tentang menuntut ilmu padahal di dunia nyata ia
malah jarang atau tidak menerapkannya. Tetapi kita perlu husnudzon juga,
karena ada mereka yang memang kerjanya berhubungan dengan dunia
internet seperti ahli IT dan dagang via internet. Jadi mereka sangat
memanfaatkan kesempatan tersebut.
Jauh sebelumnya para ustadz
sudah memberi peringatan tentang hal ini. Kita lihatlah pada para ustadz
yang punya akun facebook, mereka lebih sibuk menuntut ilmu dan
berdakwah di dunia nyata.
Terkadang Lebih Baik HP Tidak Ada Jaringan Internetnya
Terkadang mungkin ini lebih baik jika tidak terlalu perlu misalnya
untuk bisnis dan perdagangan. HP yang mudah dibawa kemana-mana
menyebabkan kita dengan mudahnya membuka jejaring sosial seperti
facebook. Sehingga sela-sela waktu malah kita gunakan untuk buka
facebook, update status dan comment. Padahal hal itu kurang terlalu
penting. Misalnya, saat pecah ban motor, update status via blackberry:
“Ban motor pecah dijalan ini, bersama @fulan, Alhamdulillah dekat ama
tambal ban”. Kemudian menunggu ada yang comment dan saling
balas-balasan.
Memang ini adalah hal yang mubah. Akan tetapi
alangkah baiknya jika ketika menunggu kita gunakan untuk beristighfar
dan berdzikir. Merenungkan apa dosa kita dan kesalahan kita hari ini
sampai ban motor bisa pecah sehinga manghambat perjalanan.
Ketahuilah, semua musibah, kesusahan dan kesedihan sekecil apapun itu
adalah akibat dosa kita karena kita lalai bertaubat dan beristighfar.
Mengenai ayat,
يَعْمَلْ سُوءاً يُجْزَ بِهِ
“Barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, niscaya akan diberi pembalasan dengannya.” (QS. An-Nisa’:123).
Qotadah rahimahullah berkata,
لا يصيب رجلا خدشٌ ولا عثرةٌ إلا بذنب
“Tidaklah seseorang terkena goresan (ranting) atau tersandung melainkan
akibat dosa yang ia perbuat”. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran 9/236 ,
Al-Qurthubi, Muassah Risalah, cet.1, 1420 H)
Jangan Melalaikan dan Meremehkan Istighfar
Kita jangan meremehkan istighfar, karena sekedar lafaz yang terucap
saja. Karena dari istighfar inilah bermula hakikat penghambaan terhadap
Allah, yaitu hati remuk-redam, bersedih mengingat dosa-dosa yang pernah
diperbuat setiap harinya. Banyak ilmu dan amal yang belum kita ketahui,
kemudian banyak ilmu yang sudah kita ketahui tidak kita amalkan, belum
lagi maksiat yang kita lakukan. Kemudian berbelas-belas memohon ampun
kepada Allah, memohon dikasihani, kemudian berjanji akan beramal
kebaikan setelahnya untuk membalas dan menghapus dosa yang kita perbuat.
Demikianlah hakikat penghambaan, apakah kita beribadah sambil tertawa?
Sambil bermain-main? Sambil bergembira ria? Tidak, tetapi hati yang
tunduk, merendah, menangis dan berlinanglah air mata karena Allah.
Setelah itu barulah hati bergembira karena teringat janji Allah subhana ta’ala melalui lisan rasul-Nya,
عَيْنَانِ لاَ تَمُسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api Neraka: (pertama) mata yang
menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, (kedua) mata
yang bermalam dalam keadaan berjaga di jalan Allah Subhanahu wata’ala.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1639, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih
At-Tirmidzi dan Al-Misykat no. 3829)
Dan hadist,
سبعةيظلّهم اللّه فى ظلّه يوم لاظلّ الاّظلّه ورجل ذكراللّه خالياففاضت عليناه
“Ada tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam
naungan-Nya pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya
sendiri”,….Orang yang mengingat pada Allah Subhanahu wata’ala di waktu
keadaan sunyi lalu berlinanglah airmata dari kedua matanya.” (Muttafaq
‘alaih)
Menangis karena Allah tidak bisa dibuat-buat. Kita
tidak bisa menangis begitu saja tiba-tiba dalam keadaan sunyi (tanpa
pengaruh musik melankolis dan pengaruh karena menangis ramai-ramai
seperti di televisi). Tidak akan bisa menangis karena Allah tanpa proses
mengakui kesalahan dan istighfar sebelumnya. Dan tangisan karena tidak
bisa muncul kecuali dari hati hanif lagi menghamba.
Perlu
diperhatikan juga bahwa tangisan karena Allah sebaiknya disembunyikan,
jangan menampakan kesedihan bersama manusia sebagaimana kesalahan yang
sering kita lihat ditelevisi. Oleh karena itu kita perlu memilih waktu
yang tepat.
Istighfar Membuat Kehidupan Menjadi Mudah
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى
“Dan hendaklah kamu meminta ampun [istighfar] kepada Tuhanmu dan
bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia
akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai
kepada waktu yang telah ditentukan.” (QS. Hud: 3)
Syaikh Muhammad Amin As-Syinqiti berkata menafsirkan ayat ini,
وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَتَاعِ الْحَسَنِ: سَعَةُ الرِّزْقِ،
وَرَغَدُ الْعَيْشِ، وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَّ الْمُرَادَ
بِالْأَجَلِ الْمُسَمَّى: الْمَوْتُ
“Pendapat terkuat tentang
yang dimaksud dengan kenikmatan adalah rizki yang melimpah, kehidupan
yang lapang dan keselamatan d idunia dan yang dimaksud dengan waktu yang
ditentukan adalah kematian.” (Adhwa’ul Bayan 2/170, Darul Fikr,
Libanon, 1415 H, Asy-Syamilah)
Kemudian istighfar juga membuat
musibah tidak jadi turun, kemudian jika turun memudahkan kita
menghadapinya, dan segera bisa menghilangkan musibah tersebut.
Imam Al-Qurthubi rahimahullah menukil dari Ibnu Shubaih dalam tafsirnya , bahwasanya ia berkata,
شَكَا رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ
اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ
اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا،
فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ
بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي
ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى
يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”
”Ada seorang laki-laki mengadu
kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata
kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”, yang lain mengadu kepadanya
tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada
Allah!” yang lain lagi berkata kepadanya,”Doakanlah (aku) kepada Allah,
agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan
kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu
tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula
kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan kamipun menganjurkan
demikian kepada orang tersebut. Lantas Hasan Al-Bashri menjawab: ”Aku
tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah
berfirman dalam surat Nuh.” (Jami’ Liahkamil Quran 18/302, Darul Kutub
Al-Mishriyah, kairo, cet. Ke-2, 1348 H, Asy-Syamilah)
Yang dimaksudkan oleh Al Hasan Al Bashri adalah ayat berikut ini,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ
وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
-sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)
untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). Dengan istighfar dapat
menyebabkan datangnya banyak kebaikan.
Jangan Lalai Juga Berdzikir
Kita sepertinya lupa juga dengan anjuran berdzikir, padahal ini adalah perbuatan yang sangat mudah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى
الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ
وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang
ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu
“Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan
segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no.
6682 dan Muslim no. 2694)
Kemudian balasan dzikir sederhana
yang dapat berbuah pahala besar dapat kita lihat pada hadits Abu
Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ
حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحر.رواه البخاري و
مسلم.
“Barangsiapa yang mengucapkan: “Subahnallah wa bihamdihi
“di dalam sehari 100 kali, dihapuskan dosa-dosanya walaupun seperti
buih dilautan”. [HR. Bukhari, no. 5926 dan Muslim, no. 4857]
Perhatikan, hanya sekitar 3-5 menit untuk membacanya 100 kali, dosa kita
terhapus semuanya. Untuk facebook dan twiter ketika menunggu tembel ban
misalnya, kita habiskan sampai 20 menit.
Terbukti, Kuatnya Pengaruh Dzikir
Bagi yang sudah terbiasa berdzikir dan merasakan nikmatnya, maka ia
adalah kebutuhan pokok seorang hamba dalam kehidupan sehari-hari. Ia
adalah kekuatan yang memudahkan kita melaksanakan berbagai ketataan dan
mejaga kita dari keburukuan. Seolah-olah ada yang kurang jika tidak
berdzikir. Dzikir pagi-petang sebagai tempat pengisiannya.
Ibnu
Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah memaparkan bagimana pengaruh dzikir
terhadap hamba berdasarkan pengamatannya langsung terhadap guru beliau
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
أن الذكر يعطي الذاكر
قوة، حتى إنه ليفعل مع الذكر ما لم يظن فعله بدونه، وقد شاهدت من قوة شيخ
الإسلام ابن تيمية في سننه وكلامه وإقدامه وكتابه أمراً عجيباً، فكان يكتب
في اليوم من التصنيف ما يكتبه الناسخ في جمعه وأكثر، وقد شاهد العسكر من
قوته في الحرب أمراً عظيماً
“Sesungguhnya bacaan dzikir
memberikan kepada pelakunya kekuatan.sampai-sampai ia mampu melakukan
pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan bila tanpa berdzikir. Sungguh
saya menyaksikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perilaku, ucapan,
keberanian dan karya tulisnya sesuatu yang menakjubkan. Dahulu, beliau
menulis dalam sehari sama dengan orang yang cuma menyalin bahkan beliau
bisa mengalahkannya lebih dari itu. Dara pasukan juga telah mengakui
keberanian beliau dalam peperangan yang luar biasa.” (Al-Wabilus Shayyib
min Kalamith Thayyib hal. 77, Darul Hadist, kairo, cet. Ke-3,
Asy-Syamilah)
Hanya berdzikir mengingat Allah hati kita menjadi
tenang, jika masih saja tidak tenang padahal sudah berdzikir,
ketahuilah hati kita mungkin sedang sakit, sehingga perlu keseriusan dan
terus menerus berdzikir.
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Hendaklah kita bijak
menggunakan waktu kita yang sangat mahal, seorang ulama berkata kepada
mereka yang sedang duduk-duduk [sekedar nongkrong] bahwa ia ingin sekali
membeli waktunya. Belum lagi para ulama yang tidur sehari hanya
sekitar empat jam saja. Karena tugas kita sangat banyak dalam dakwah
maka hendaknya menjual mahal terhadap waktu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia
yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari no.6412)
Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi
tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala
alihi wa shohbihi wa sallam.
Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid, 26 Syawwal 1432 H.
Semoga Allah meluruskan niat kami dalam menulis
—
Penulis: Raehanul Bahraen
Muroja’ah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
Jumat, Januari 25, 2013
Jumat, November 30, 2012
30 Tahun Mendatang Anak Kita
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika mereka telah terikat hatinya dengan Islam, akan mudah bersungguh-sungguh setelah dewasa. Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius.
Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!!
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien 30 tahun mendatang.
Maka..., ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab.
Ketika hari ini, di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Ini urusan umat. Urusan dakwah. Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah Ta'ala. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka sungguh engkau sedang membuat kerusakan. | Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran).
Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya.
Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta'ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.
Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.
Maafkan saya. Semoga kita sadar bahwa mendidik bukan urusan kelangsungan organisasi. Lebih dari itu, keselamatan umat ini dan generasinya.
http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/30-tahun-mendatang-anak-kita/436312186417915
Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika mereka telah terikat hatinya dengan Islam, akan mudah bersungguh-sungguh setelah dewasa. Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius.
Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!!
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien 30 tahun mendatang.
Maka..., ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab.
Ketika hari ini, di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Ini urusan umat. Urusan dakwah. Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah Ta'ala. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka sungguh engkau sedang membuat kerusakan. | Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran).
Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya.
Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta'ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.
Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.
Maafkan saya. Semoga kita sadar bahwa mendidik bukan urusan kelangsungan organisasi. Lebih dari itu, keselamatan umat ini dan generasinya.
http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/30-tahun-mendatang-anak-kita/436312186417915
Labels:
family,
muslim indonesia,
pendidikan
Selasa, Oktober 16, 2012
Dua Anak Lebih, Baik!
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Suatu ketika datang kepada saya suami-isteri usia 50-an tahun atau bahkan sudah mendekati 60 tahun. Ada masalah yang ingin mereka konsultasikan. Mereka kesulitan mengendalikan perilaku anak bungsunya dan merasa tidak mampu mengasuh anak tersebut dengan kebiasaan serta nilai-nilai mulia. Awalnya anak ini tumbuh dengan kebiasaan yang baik, tetapi tatkala memasuki SLTP, perilakunya berubah. Anak manis itu mulai merokok, begadang, kasar kepada orangtua dan pacaran sampai jauh malam. Tak ada yang bisa mereka lakukan karena –menurut cerita orangtuanya—anaknya tak bisa dikerasi. Dinasehati tak mendengar, dicegah melawan, dan dikerasi melawan. Sementara ketika kedua orangtua mengambil sikap lunak, anak itu tak berubah perilakunya.
Apa yang salah pada anak ini? Orangtuanya memiliki waktu yang cukup, bahkan lebih dari cukup untuk mengasuh, menemani dan memberi pendidikan terbaik kepada anak. Meskipun kedua orangtuanya sangat sibuk, mereka berdua memiliki komitmen yang baik dalam urusan mendidik anak. Mereka sendiri menyandang gelar doktor dan masing-masing memegang peranan penting di lembaga pendidikan. Bahkan karena ingin menjamin anaknya sukses, mereka mempersiapkan anak-anaknya secara cermat penuh perhitungan. Demi memastikan agar anak keduanya memperoleh perhatian secara memadai dan biaya pendidikan yang cukup, mereka secara sengaja merencanakan agar jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua di atas 10 tahun. Dan sesuai rencana, jarak kelahiran anaknya benar-benar sesuai keinginan.
Tetapi….
Rupanya ada yang lupa ia perhitungkan bahwa kerepotan bukanlah banyaknya urusan yang harus kita selesaikan. Betapa banyak orang yang harus menangani sangat banyak urusan setiap hari, tetapi ia tetap mampu menghadapinya dengan senyum lebar. Pada saat yang sama, ia mampu terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Sebaliknya, urusan kecil dapat memusingkan kepala manakala kita tidak siap menghadapinya.
Mengasuh anak juga demikian. Bukan banyaknya anak yang menyebabkan kita tak punya kesempatan mengurus diri sendiri, bukan juga aktifnya mereka yang menjadikan kita merasa kelelahan dan tegang terus-menerus. Kesiapan mental kitalah yang lebih banyak berpengaruh terhadap bagaimana kita merasakan tiap-tiap peristiwa sebagai kesengsaraan dan penderitaan ataukah sebagai tantangan dan ladang amal shalih. Mereka yang menyiapkan dirinya untuk mengasuh banyak anak, lebih ringan hati tatkala Allah Ta’ala mengamanahkan kepadanya satu atau dua anak. Sebaliknya, mereka yang berusaha keras agar tak banyak urusan yang harus mereka selesaikan dalam mengasuh anak dengan berusaha keras agar tidak mempunyai banyak anak, akan lebih cepat merasakan beratnya persoalan hanya karena anak meminta perhatian lebih.
Karenanya, sebelum melangkah lebih jauh, marilah kita renungkan sejenak sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang tidak mau melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian. Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian dibanding umat yang lain.” (HR. Ibnu Majah).
Hadis yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah ini jelas menunjukkan keutamaan mempunyai banyak anak dan menjadikannya sebagai cita-cita. Tak ada yang menghalangi mereka untuk mempunyai lebih banyak anak kecuali karena pertimbangan-pertimbangan syar’i. Tak ada yang menjadikan mereka gemetar hatinya untuk memperbanyak anak kecuali karena lemahnya keyakinan. Mereka mengaku bertuhan, tetapi tidak meyakini bahwa Allah Maha Pemurah. Mereka mengaku beriman, tetapi ragu terhadap janji tuhannya.
Di sisi lain, lemahnya cita-cita dan kurangnya tekad untuk berbanyak anak menyebabkan kita mudah berkeluh-kesah. Kita cepat sekali merasakan kerepotan yang tak teratasi. Suka atau tidak, ini akan mempengaruhi cara kita mengasuh anak. Mereka yang dibesarkan dengan keluh-kesah cenderung tidak memiliki daya juang tinggi. Mereka cepat merasa sulit bahkan sebelum berletih-letih dalam berusaha. Padahal bersama kesulitan pasti ada beberapa kemudahan yang pasti Allah Ta’ala berikan kepada kita. Sebaliknya, mereka yang dibesarkan dengan penuh penerimaan dan kasih-sayang, akan memiliki penerimaan diri yang baik sehingga mereka tumbuh sebagai manusia yang penuh percaya diri. Mereka mudah menghargai orang lain bukan karena orang lain memiliki kehebatan luar biasa. Mereka menghargai karena lapangnya dada dan bersihnya hati sehingga mudah merasakan kebaikan orang lain.
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Sebelum urusan bagaimana cara mengasuh anak, ada yang harus kita benahi dalam niat kita. Jika banyaknya anak menjadi cita-cita, maka kehadiran mereka akan kita sambut dengan penuh kerelaan dan rasa syukur. Ini merupakan hadiah pertama yang sangat berharga bagi anak. Jika mereka dibesarkan dengan penuh kesyukuran serta kehangatan, anak-anak itu akan lebih mudah untuk belajar menebar kebaikan dan kesantunan. Inilah pilar awal pembelajaran. Di berbagai sekolah terbaik, akhlak mulia dan perilaku santun merupakan prioritas pertama sebelum melibatkan anak dalam kegiatan pembelajaran akademik. Inilah dasar berpengetahuan (the basic of knowing) yang sangat penting. Ini pula yang menjadi penanda apakah sebuah sekolah, ma’had atau sekolah berasrama (boarding school) memiliki iklim yang positif atau tidak. Secara lebih sempit, iklim belajar berkembang baik atau tidak di sebuah sekolah dapat dilihat dari kuat-lemahnya kesantunan dalam wicara maupun dalam perbuatan lain.
Tentu saja sangat berbeda antara punya banyak anak karena memang menginginkan dengan penuh harap dengan berbanyak anak semata karena subur dan sering berhubungan. Yang tampak bisa sama, tetapi nilai keduanya sangat berbeda. Berbeda pula akibat yang muncul sesudahnya. Yang pertama terjadi karena besarnya harapan terhadap ridha Allah dan kehidupan yang penuh barakah. Sedangkan yang kedua muncul karena kurangnya kendali dan besarnya gairah berhubungan. Itu saja!
Wallahu a’lam bish-shawab.
Selebihnya, ada yang perlu kita perhatikan dalam mengasuh anak. Segala sesuatu ada ‘ilmunya. Tugas kita untuk membekali diri dengan ‘ilmu sebelum berbicara dan bertindak. Pada saat yang sama, kita memohon pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla agar apa yang ada dalam diri kita dapat menjadi jalan kebaikan. Jika kita termasuk orang yang keras, semoga Allah jadikan kerasnya sikap kita menjadi sebabnya tegaknya kebaikan dan kebenaran sebagaimana Allah Ta’ala telah baguskan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya. Sebaliknya, semoga lunaknya sikap tidak menjadikan kita kehilangan ketegasan, tidak pula menyebabkan goyahnya pendirian kita atas perkara yang nyata kebenarannya.
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah; Al-Qur’an. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, yakni segala yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, termasuk yang beliau benarkan, diamkan dan larang.
Ada yang perlu kita pelajari lebih dalam lagi. Ada yang perlu kita kaji agar petunjuk Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam menjadi sumber untuk memperoleh kebenaran. Bukan untuk melakukan pembenaran atas segala sesuatu yang datang belakangan dan tampak memukau.
Wallahu a’lam bish-shawab.
http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/dua-anak-lebih-baik/419863454729455
Suatu ketika datang kepada saya suami-isteri usia 50-an tahun atau bahkan sudah mendekati 60 tahun. Ada masalah yang ingin mereka konsultasikan. Mereka kesulitan mengendalikan perilaku anak bungsunya dan merasa tidak mampu mengasuh anak tersebut dengan kebiasaan serta nilai-nilai mulia. Awalnya anak ini tumbuh dengan kebiasaan yang baik, tetapi tatkala memasuki SLTP, perilakunya berubah. Anak manis itu mulai merokok, begadang, kasar kepada orangtua dan pacaran sampai jauh malam. Tak ada yang bisa mereka lakukan karena –menurut cerita orangtuanya—anaknya tak bisa dikerasi. Dinasehati tak mendengar, dicegah melawan, dan dikerasi melawan. Sementara ketika kedua orangtua mengambil sikap lunak, anak itu tak berubah perilakunya.
Apa yang salah pada anak ini? Orangtuanya memiliki waktu yang cukup, bahkan lebih dari cukup untuk mengasuh, menemani dan memberi pendidikan terbaik kepada anak. Meskipun kedua orangtuanya sangat sibuk, mereka berdua memiliki komitmen yang baik dalam urusan mendidik anak. Mereka sendiri menyandang gelar doktor dan masing-masing memegang peranan penting di lembaga pendidikan. Bahkan karena ingin menjamin anaknya sukses, mereka mempersiapkan anak-anaknya secara cermat penuh perhitungan. Demi memastikan agar anak keduanya memperoleh perhatian secara memadai dan biaya pendidikan yang cukup, mereka secara sengaja merencanakan agar jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua di atas 10 tahun. Dan sesuai rencana, jarak kelahiran anaknya benar-benar sesuai keinginan.
Tetapi….
Rupanya ada yang lupa ia perhitungkan bahwa kerepotan bukanlah banyaknya urusan yang harus kita selesaikan. Betapa banyak orang yang harus menangani sangat banyak urusan setiap hari, tetapi ia tetap mampu menghadapinya dengan senyum lebar. Pada saat yang sama, ia mampu terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Sebaliknya, urusan kecil dapat memusingkan kepala manakala kita tidak siap menghadapinya.
Mengasuh anak juga demikian. Bukan banyaknya anak yang menyebabkan kita tak punya kesempatan mengurus diri sendiri, bukan juga aktifnya mereka yang menjadikan kita merasa kelelahan dan tegang terus-menerus. Kesiapan mental kitalah yang lebih banyak berpengaruh terhadap bagaimana kita merasakan tiap-tiap peristiwa sebagai kesengsaraan dan penderitaan ataukah sebagai tantangan dan ladang amal shalih. Mereka yang menyiapkan dirinya untuk mengasuh banyak anak, lebih ringan hati tatkala Allah Ta’ala mengamanahkan kepadanya satu atau dua anak. Sebaliknya, mereka yang berusaha keras agar tak banyak urusan yang harus mereka selesaikan dalam mengasuh anak dengan berusaha keras agar tidak mempunyai banyak anak, akan lebih cepat merasakan beratnya persoalan hanya karena anak meminta perhatian lebih.
Karenanya, sebelum melangkah lebih jauh, marilah kita renungkan sejenak sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang tidak mau melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian. Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian dibanding umat yang lain.” (HR. Ibnu Majah).
Hadis yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah ini jelas menunjukkan keutamaan mempunyai banyak anak dan menjadikannya sebagai cita-cita. Tak ada yang menghalangi mereka untuk mempunyai lebih banyak anak kecuali karena pertimbangan-pertimbangan syar’i. Tak ada yang menjadikan mereka gemetar hatinya untuk memperbanyak anak kecuali karena lemahnya keyakinan. Mereka mengaku bertuhan, tetapi tidak meyakini bahwa Allah Maha Pemurah. Mereka mengaku beriman, tetapi ragu terhadap janji tuhannya.
Di sisi lain, lemahnya cita-cita dan kurangnya tekad untuk berbanyak anak menyebabkan kita mudah berkeluh-kesah. Kita cepat sekali merasakan kerepotan yang tak teratasi. Suka atau tidak, ini akan mempengaruhi cara kita mengasuh anak. Mereka yang dibesarkan dengan keluh-kesah cenderung tidak memiliki daya juang tinggi. Mereka cepat merasa sulit bahkan sebelum berletih-letih dalam berusaha. Padahal bersama kesulitan pasti ada beberapa kemudahan yang pasti Allah Ta’ala berikan kepada kita. Sebaliknya, mereka yang dibesarkan dengan penuh penerimaan dan kasih-sayang, akan memiliki penerimaan diri yang baik sehingga mereka tumbuh sebagai manusia yang penuh percaya diri. Mereka mudah menghargai orang lain bukan karena orang lain memiliki kehebatan luar biasa. Mereka menghargai karena lapangnya dada dan bersihnya hati sehingga mudah merasakan kebaikan orang lain.
Pelajaran apa yang bisa kita petik? Sebelum urusan bagaimana cara mengasuh anak, ada yang harus kita benahi dalam niat kita. Jika banyaknya anak menjadi cita-cita, maka kehadiran mereka akan kita sambut dengan penuh kerelaan dan rasa syukur. Ini merupakan hadiah pertama yang sangat berharga bagi anak. Jika mereka dibesarkan dengan penuh kesyukuran serta kehangatan, anak-anak itu akan lebih mudah untuk belajar menebar kebaikan dan kesantunan. Inilah pilar awal pembelajaran. Di berbagai sekolah terbaik, akhlak mulia dan perilaku santun merupakan prioritas pertama sebelum melibatkan anak dalam kegiatan pembelajaran akademik. Inilah dasar berpengetahuan (the basic of knowing) yang sangat penting. Ini pula yang menjadi penanda apakah sebuah sekolah, ma’had atau sekolah berasrama (boarding school) memiliki iklim yang positif atau tidak. Secara lebih sempit, iklim belajar berkembang baik atau tidak di sebuah sekolah dapat dilihat dari kuat-lemahnya kesantunan dalam wicara maupun dalam perbuatan lain.
Tentu saja sangat berbeda antara punya banyak anak karena memang menginginkan dengan penuh harap dengan berbanyak anak semata karena subur dan sering berhubungan. Yang tampak bisa sama, tetapi nilai keduanya sangat berbeda. Berbeda pula akibat yang muncul sesudahnya. Yang pertama terjadi karena besarnya harapan terhadap ridha Allah dan kehidupan yang penuh barakah. Sedangkan yang kedua muncul karena kurangnya kendali dan besarnya gairah berhubungan. Itu saja!
Wallahu a’lam bish-shawab.
Selebihnya, ada yang perlu kita perhatikan dalam mengasuh anak. Segala sesuatu ada ‘ilmunya. Tugas kita untuk membekali diri dengan ‘ilmu sebelum berbicara dan bertindak. Pada saat yang sama, kita memohon pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla agar apa yang ada dalam diri kita dapat menjadi jalan kebaikan. Jika kita termasuk orang yang keras, semoga Allah jadikan kerasnya sikap kita menjadi sebabnya tegaknya kebaikan dan kebenaran sebagaimana Allah Ta’ala telah baguskan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya. Sebaliknya, semoga lunaknya sikap tidak menjadikan kita kehilangan ketegasan, tidak pula menyebabkan goyahnya pendirian kita atas perkara yang nyata kebenarannya.
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah; Al-Qur’an. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, yakni segala yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, termasuk yang beliau benarkan, diamkan dan larang.
Ada yang perlu kita pelajari lebih dalam lagi. Ada yang perlu kita kaji agar petunjuk Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam menjadi sumber untuk memperoleh kebenaran. Bukan untuk melakukan pembenaran atas segala sesuatu yang datang belakangan dan tampak memukau.
Wallahu a’lam bish-shawab.
http://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/dua-anak-lebih-baik/419863454729455
Labels:
family,
pendidikan,
saudariku...,
ya Robbi...
Selasa, Oktober 02, 2012
Wahai Anakku, Cintailah Al-Qur’an!
Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam
Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di
dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan
maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.
Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.
Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.
Adapun metode-metode yang bisa digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.
Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.
Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”
Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.
2. Sabar dalam menghadapi anak.
Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.
3. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.
Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.
4. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.
Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”
5. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.
Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :
Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
Setelah makan dan kenyang,
Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.
Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai. Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:
Diringkas dari Agar Anak Mencintai Al-Qur’an, Dr. Sa’ad Riyadh
http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/wahai-anakku-cintailah-al-quran.html
Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.
Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.
Adapun metode-metode yang bisa digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.
Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.
Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”
Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.
2. Sabar dalam menghadapi anak.
Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.
3. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.
Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.
4. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.
Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”
5. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.
Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :
- Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
- Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
- Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
Setelah makan dan kenyang,
Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.
Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai. Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:
- Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
- Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
- Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
- Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
- Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
- Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
- Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
- Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan.
Diringkas dari Agar Anak Mencintai Al-Qur’an, Dr. Sa’ad Riyadh
http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/wahai-anakku-cintailah-al-quran.html
Kamis, September 20, 2012
AKU HANYA RINDU
Jika seorang penyair mampu mengungkapkan
kegundahan melalui syairnya, aku mampu mengungkapkan kegundahanku
melalui linangan air mataku. Aku rindu akan dirinya, namun aku takut
jika rinduku pada-Nya tak lebih besar lagi. Ma
ka
air mata ini menjadi tangis rindu serta doa untuk yang terbaik bagimu
yang kurindu. Ya Rabb, jika memang ia kau pilihkan untukku nantinya,
biarlah ia disana dan aku disini. Biarlah terhijab oleh jarak ini,
biarlah terhijab oleh malu ini. Rabb, hatiku benar-benar berharap
penjagaan-Mu.
Manalah yang lebih kupilih selain menjaga kebaikan keduanya. Memang terasa berat dengan sedikit memudarkan lamunan. Memang terasa sedikit menyayat hati ketika mencoba menghapus kerinduan. Namun itulah pilihan. Namun itulah jalan. Kupilih karena aku mencintaimu.
Ya benar aku merindumu. Ya benar aku berharap akan dirimu. Namun apa daya kuasa tak ditanganku. Biarlah Allah memilihkan dirimu atau siapapun sebagai pemilik cinta ini. Janganlah kecewa, Allah akan pilihkan yang terbaik untuk kita. Bahkan mudah bagi Allah untuk menyatukan kita. Jangan khawatir, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Bersabarlah…
Saat ini memang rasa ini masih membuncah dan bergejolak. Dan, ya inilah masalah hati yang tak bisa dipahami oleh orang lain. Bahkan diriku sendiri. Namun aku bersyukur karena Allah menganugerahkan rasa suci ini kepadaku. Tentang dirimu? Hanya Allah-lah yang tahu…
Manalah yang lebih kupilih selain menjaga kebaikan keduanya. Memang terasa berat dengan sedikit memudarkan lamunan. Memang terasa sedikit menyayat hati ketika mencoba menghapus kerinduan. Namun itulah pilihan. Namun itulah jalan. Kupilih karena aku mencintaimu.
Ya benar aku merindumu. Ya benar aku berharap akan dirimu. Namun apa daya kuasa tak ditanganku. Biarlah Allah memilihkan dirimu atau siapapun sebagai pemilik cinta ini. Janganlah kecewa, Allah akan pilihkan yang terbaik untuk kita. Bahkan mudah bagi Allah untuk menyatukan kita. Jangan khawatir, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Bersabarlah…
Saat ini memang rasa ini masih membuncah dan bergejolak. Dan, ya inilah masalah hati yang tak bisa dipahami oleh orang lain. Bahkan diriku sendiri. Namun aku bersyukur karena Allah menganugerahkan rasa suci ini kepadaku. Tentang dirimu? Hanya Allah-lah yang tahu…
Labels:
family,
saudariku...,
ya Robbi...
Kamis, Juli 26, 2012
CINTA YANG SAH DAN YANG TIDAK SAH
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan
musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka
(berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya
mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu...” (QS. Al
Mumtahanah, 60: 1)
Sentimentalisme, atau dengan kata lain, kerinduan romantis, menjadikan dirinya lebih sering dikenal dalam samaran "cinta". Misalnya, seperti yang akan dibahas pada bahasan berikutnya, kaum nasionalis romantis menyatakan mencintai negara mereka, yang menjadi alasan bagi mereka untuk memusuhi atau bahkan menyerang bangsa-bangsa lain.
Atau kita bisa memperhatikan seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis yang dijadikan satu-satunya fokus dalam hidupnya. Yang menuntun pemuda itu menulis bagi sang gadis puisi, "Aku cinta kepadamu", dan menjadi terobsesi dengannya sampai hendak bunuh diri, dan bahkan "memuja" sang gadis, adalah gagasan "cinta". Kemudian ada kaum homoseksual, mereka yang jelas-jelas melanggar larangan Tuhan, tanpa malu-malu dan berkeras mempraktikkan penyimpangan seksualnya; mereka juga mengklaim telah menemukan "cinta".
Sementara bagi mayoritas orang, mereka mengira bahwa setiap perasaan yang mengatasnamakan "cinta" dianggap mulia, murni dan bahkan suci, dan bahwa contoh-contoh kerinduan romantis seperti yang disebutkan di atas, dapat diterima sepenuhnya.
Cinta memang perasaan yang indah, yang dianugrahkan Allah kepada manusia, tetapi penting untuk membedakan apakah cinta itu nyata atau tidak, dan untuk menimbang-nimbang kepada siapa cinta ditujukan, dan sentimen apa yang menjadi dasarnya. Penyelidikan demikian akan menjelaskan perbedaan antara sentimentalisme yang mengarah pada cinta yang menyimpang, dan cinta sejati, seperti yang difirmankan Allah di dalam Al Quran.
Menurut Al Quran, cinta harus ditujukan kepada yang berhak menerimanya. Mereka yang tidak pantas menerimanya tidak perlu dicintai. Bahkan kita diharuskan menjaga jarak secara emosional dari mereka, atau setidaknya, tidak merasakan kecenderungan ke arah mereka. Tetapi mereka yang pantas mene-rimanya, pantas dicintai karena sifat-sifat baiknya.
Satu-satunya Zat yang berhak menerima cinta mutlak adalah Allah, yang menciptakan kita semua. Allah yang menciptakan kita, melimpahi dengan nikmat yang tidak terhitung banyaknya, yang menunjukkan jalan, dan menjanjikan surga abadi untuk kita. Dia menolong kita keluar dari setiap kecemasan dan dengan sabar mendengarkan setiap doa kita.
Dialah yang memberi kita makan hingga kenyang, mengobati kita apabila sakit dan kemudian mengembalikan semangat kita. Karena itu, mereka yang memahami misteri alam semesta akan mencintai Allah di atas segalanya, dan mencintai siapa saja yang dicintai Allah, yaitu orang-orang yang taat mengikuti kehendak-Nya.
Di lain pihak, para pembangkang yang memberontak terhadap Allah, Tuhan mereka, tidaklah layak untuk dicintai. Memberikan cinta kepada orang-orang itu adalah kesalahan besar, bertentangan dengan peringatan Allah terhadap orang beriman dalam firman-Nya berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasilh sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Mumtahanah, 60: 1)
Seperti yang dinyatakan pada ayat di atas, orang beriman tidak boleh memberikan cintanya kepada pembangkang. Ada hal penting di sini yang perlu diingat: meskipun orang beriman tidak merasakan cinta dalam hatinya bagi seseorang yang menolak agama, dia harus tetap berusaha dengan segala daya untuk mengajaknya beriman dan patuh kepada Allah. "Tidak mencintai" orang seperti itu bukan berarti mem-bencinya, atau tidak menghendaki apa yang baik baginya.
Sebaliknya, orang beriman kepada Allah akan menjelaskan makna agama kepada siapa saja yang mencari jalan lurus, dan yang mau menerima petunjuk. Orang beriman yang mengingatkan orang lain tentang keberadaan surga dan neraka, dan memperingatkannya tentang kematian, hari perhitungan, dan kehidupan akhirat, akan memenuhi tugasnya dengan kepedulian dan kasih sayang.
Bahkan jika seseorang tetap tidak beriman, walaupun segenap daya upaya sudah dikerahkan, ini tidaklah menghalangi Muslim untuk berbuat adil terhadapnya. Kecuali seseorang mencoba menyakiti orang-orang beriman, atau menyebabkan konflik dan pertentangan antar se-sama, seorang muslim harus tetap bersikap toleransi kepada semuanya, karena Allah sudah memberi perintah kepada orang-orang yang beriman:
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah, 60: 8-9)
Pada ayat di atas, seperti juga ayat sebelumnya (QS. Al Mumtahanah, 60: 1), Allah, dengan kebijaksanaan-Nya, mengajarkan kita suatu hal yang sangat penting untuk dipahami. Emosi tidak boleh menuntun perilaku seseorang, karena ia dapat menjerumuskannya pada kesalahan besar. Seseorang harus bertindak, tidak menurutkan emosinya, tetapi menurutkan akal sehatnya, kehendak bebasnya, dan perintah Allah. Lebih jauh, dia harus melatih emosinya agar selaras dengan akal sehat dan kehendaknya.
Kita dapat mengenali kebutuhan ini dalam diri siapa saja yang sudah jatuh ke dalam perangkap sentimentalitas. Ratusan juta orang diperbudak oleh perasaan, ambisi, nafsu, kebencian dan kemarahan mereka. Mereka melakukan hal-hal yang tidak rasional, dan mem-benarkan tindakan mereka dengan menyatakan ketidakberdayaan, misalnya berkata, "Saya tidak bisa menahannya, saya benar-benar menyukainya," atau "Saya tidak berdaya. Saya menginginkannya. Saya merasa menyukainya." Tetapi sebenarnya, sesuatu yang "disukai" seseorang tidak berarti baik atau sah.
Perasaan di dalam diri kita selalu mendorong kita untuk melakukan kesalahan, dengan setan menghasut kita melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. Ketika seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah, dan berdalih, "Saya tidak kuasa menahannya. Saya merasa menyukainya," sebenarnya dirinya bertindak sebagai alat setan. Di dalam Al Quran, Allah merujuk orang-orang seperti itu melalui ayat berikut:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat ber-dasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (mem-biarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah, 45: 23)
Pada bahasan berikutnya, akan diteliti pelbagai contoh romantisisme berlebihan, sejenis sentimentalisme. Akan dibahas pula bahaya yang mengancam manusia dari cara berpikir demikian, dan bagaimana penyakit itu bisa diatasi.
http://www.facebook.com/layla.yudha.5
Sentimentalisme, atau dengan kata lain, kerinduan romantis, menjadikan dirinya lebih sering dikenal dalam samaran "cinta". Misalnya, seperti yang akan dibahas pada bahasan berikutnya, kaum nasionalis romantis menyatakan mencintai negara mereka, yang menjadi alasan bagi mereka untuk memusuhi atau bahkan menyerang bangsa-bangsa lain.
Atau kita bisa memperhatikan seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis yang dijadikan satu-satunya fokus dalam hidupnya. Yang menuntun pemuda itu menulis bagi sang gadis puisi, "Aku cinta kepadamu", dan menjadi terobsesi dengannya sampai hendak bunuh diri, dan bahkan "memuja" sang gadis, adalah gagasan "cinta". Kemudian ada kaum homoseksual, mereka yang jelas-jelas melanggar larangan Tuhan, tanpa malu-malu dan berkeras mempraktikkan penyimpangan seksualnya; mereka juga mengklaim telah menemukan "cinta".
Sementara bagi mayoritas orang, mereka mengira bahwa setiap perasaan yang mengatasnamakan "cinta" dianggap mulia, murni dan bahkan suci, dan bahwa contoh-contoh kerinduan romantis seperti yang disebutkan di atas, dapat diterima sepenuhnya.
Cinta memang perasaan yang indah, yang dianugrahkan Allah kepada manusia, tetapi penting untuk membedakan apakah cinta itu nyata atau tidak, dan untuk menimbang-nimbang kepada siapa cinta ditujukan, dan sentimen apa yang menjadi dasarnya. Penyelidikan demikian akan menjelaskan perbedaan antara sentimentalisme yang mengarah pada cinta yang menyimpang, dan cinta sejati, seperti yang difirmankan Allah di dalam Al Quran.
Menurut Al Quran, cinta harus ditujukan kepada yang berhak menerimanya. Mereka yang tidak pantas menerimanya tidak perlu dicintai. Bahkan kita diharuskan menjaga jarak secara emosional dari mereka, atau setidaknya, tidak merasakan kecenderungan ke arah mereka. Tetapi mereka yang pantas mene-rimanya, pantas dicintai karena sifat-sifat baiknya.
Satu-satunya Zat yang berhak menerima cinta mutlak adalah Allah, yang menciptakan kita semua. Allah yang menciptakan kita, melimpahi dengan nikmat yang tidak terhitung banyaknya, yang menunjukkan jalan, dan menjanjikan surga abadi untuk kita. Dia menolong kita keluar dari setiap kecemasan dan dengan sabar mendengarkan setiap doa kita.
Dialah yang memberi kita makan hingga kenyang, mengobati kita apabila sakit dan kemudian mengembalikan semangat kita. Karena itu, mereka yang memahami misteri alam semesta akan mencintai Allah di atas segalanya, dan mencintai siapa saja yang dicintai Allah, yaitu orang-orang yang taat mengikuti kehendak-Nya.
Di lain pihak, para pembangkang yang memberontak terhadap Allah, Tuhan mereka, tidaklah layak untuk dicintai. Memberikan cinta kepada orang-orang itu adalah kesalahan besar, bertentangan dengan peringatan Allah terhadap orang beriman dalam firman-Nya berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasilh sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Mumtahanah, 60: 1)
Seperti yang dinyatakan pada ayat di atas, orang beriman tidak boleh memberikan cintanya kepada pembangkang. Ada hal penting di sini yang perlu diingat: meskipun orang beriman tidak merasakan cinta dalam hatinya bagi seseorang yang menolak agama, dia harus tetap berusaha dengan segala daya untuk mengajaknya beriman dan patuh kepada Allah. "Tidak mencintai" orang seperti itu bukan berarti mem-bencinya, atau tidak menghendaki apa yang baik baginya.
Sebaliknya, orang beriman kepada Allah akan menjelaskan makna agama kepada siapa saja yang mencari jalan lurus, dan yang mau menerima petunjuk. Orang beriman yang mengingatkan orang lain tentang keberadaan surga dan neraka, dan memperingatkannya tentang kematian, hari perhitungan, dan kehidupan akhirat, akan memenuhi tugasnya dengan kepedulian dan kasih sayang.
Bahkan jika seseorang tetap tidak beriman, walaupun segenap daya upaya sudah dikerahkan, ini tidaklah menghalangi Muslim untuk berbuat adil terhadapnya. Kecuali seseorang mencoba menyakiti orang-orang beriman, atau menyebabkan konflik dan pertentangan antar se-sama, seorang muslim harus tetap bersikap toleransi kepada semuanya, karena Allah sudah memberi perintah kepada orang-orang yang beriman:
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah, 60: 8-9)
Pada ayat di atas, seperti juga ayat sebelumnya (QS. Al Mumtahanah, 60: 1), Allah, dengan kebijaksanaan-Nya, mengajarkan kita suatu hal yang sangat penting untuk dipahami. Emosi tidak boleh menuntun perilaku seseorang, karena ia dapat menjerumuskannya pada kesalahan besar. Seseorang harus bertindak, tidak menurutkan emosinya, tetapi menurutkan akal sehatnya, kehendak bebasnya, dan perintah Allah. Lebih jauh, dia harus melatih emosinya agar selaras dengan akal sehat dan kehendaknya.
Kita dapat mengenali kebutuhan ini dalam diri siapa saja yang sudah jatuh ke dalam perangkap sentimentalitas. Ratusan juta orang diperbudak oleh perasaan, ambisi, nafsu, kebencian dan kemarahan mereka. Mereka melakukan hal-hal yang tidak rasional, dan mem-benarkan tindakan mereka dengan menyatakan ketidakberdayaan, misalnya berkata, "Saya tidak bisa menahannya, saya benar-benar menyukainya," atau "Saya tidak berdaya. Saya menginginkannya. Saya merasa menyukainya." Tetapi sebenarnya, sesuatu yang "disukai" seseorang tidak berarti baik atau sah.
Perasaan di dalam diri kita selalu mendorong kita untuk melakukan kesalahan, dengan setan menghasut kita melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. Ketika seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah, dan berdalih, "Saya tidak kuasa menahannya. Saya merasa menyukainya," sebenarnya dirinya bertindak sebagai alat setan. Di dalam Al Quran, Allah merujuk orang-orang seperti itu melalui ayat berikut:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat ber-dasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (mem-biarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah, 45: 23)
Pada bahasan berikutnya, akan diteliti pelbagai contoh romantisisme berlebihan, sejenis sentimentalisme. Akan dibahas pula bahaya yang mengancam manusia dari cara berpikir demikian, dan bagaimana penyakit itu bisa diatasi.
http://www.facebook.com/layla.yudha.5
Sabtu, Juni 16, 2012
Akhi, Belajarlah Terlebih Dulu…
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan
diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan
diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak
akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian
dengan as-Sunnah.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar karya Ibnu Taimiyah, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama’)
A. Landasan Ucapan dan Amalan
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’: 36).
Imam Bukhari rahimahullah membuat bab dalam Shahihnya di dalam Kitab al-’Ilmu sebuah bab dengan judul ‘Ilmu sebelum berkata dan beramal, berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah.” (QS. Muhammad: 19).’ Lalu beliau berkata, “Allah memulai dengan ilmu.” (lihat Fath al-Bari [1/194])
Imam al-’Aini rahimahullah berkata, “Artinya: Ini adalah bab yang akan menerangkan bahwasanya ilmu didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan. Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu hendaknya diilmui terlebih dahulu, baru kemudian diucapkan dan diamalkan. Sehingga ilmu lebih dikedepankan daripada keduanya secara hakikatnya. Demikian pula ilmu lebih diutamakan di atas keduanya dari sisi kemuliaan. Sebab ilmu adalah amalan hati, sementara hati adalah anggota badan yang paling mulia.” (lihat ‘Umdat al-Qari [2/58])
Ibnul Munayyir rahimahullah berkata, “Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa ilmu merupakan syarat benarnya ucapan dan amalan. Sehingga keduanya tidaklah dianggap tanpanya. Maka ilmu itu lebih didahulukan daripada keduanya, sebab ilmu menjadi faktor yang akan meluruskan niat, sedangkan lurusnya niat itulah yang menjadi pelurus amalan. Penulis ingin menggarisbawahi hal itu supaya tidak muncul anggapan dari perkataan sebagian orang bahwa ‘ilmu tidak ada gunanya tanpa amalan’ yang menimbulkan sikap meremehkan ilmu dan bermudah-mudahan dalam mempelajarinya.” (lihat Fath al-Bari [1/195])
Suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Kemudian dia bertanya lagi, “Amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Lantas lelaki itu berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”. Ibnu Mas’ud pun menimpali perkataannya, “Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/133])
Qatadah berkata: Sesungguhnya setan tidak pernah membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia pun datang melalui pintu ilmu. Setan mengatakan, “Untuk apa kamu terus-menerus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan semua (ilmu) yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.” Maka Qatadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa ‘alaihis salam adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.” (QS. al-Kahfi: 66) (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136])
B. Ilmu Sebagai Bekal Dakwah
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah -hai Muhammad-: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan tergolong bersama golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar kecuali orang yang padanya terdapat tiga ciri ini: lemah lembut dalam memerintah dan lemah lembut dalam melarang, bersikap adil dalam memerintah dan adil dalam melarang, serta mengetahui apa yang diperintahkan dan mengetahui apa yang dilarang.” (lihat catatan kaki al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 52 ta’liq Syaikh Ruslan)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “.. sesungguhnya perkara yang paling banyak merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Dan yang dimaksud ‘di atas bashirah’ itu bukan ilmu syari’at saja. Akan tetapi ia juga mencakup ilmu mengenai syari’at, ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi, dan ilmu tentang cara untuk mencapai tujuan dakwahnya; itulah yang dikenal dengan istilah hikmah…” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/82]). Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Adapun orang yang berdakwah tanpa bashirah/ilmu, maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.” (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 111)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan kepadaku perkara-perkara yang keji, yang tampak maupun yang tersembunyi, begitu pula dosa, perbuatan melanggar hak, berbuat syirik kepada Allah padahal tidak ada keterangan yang Allah turunkan untuk membenarkannya, dan Allah juga mengharamkan kalian berbicara tentang Allah tanpa landasan ilmu.” (QS. al-A’raaf: 33)
Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Perkara yang paling penting bagi seorang da’i adalah memahami apa yang dia dakwahkan secara global maupun terperinci, supaya dia tidak terjerumus dalam tindakan berfatwa tanpa ilmu.” (lihat transkrip Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 7)
C. Ilmu Ada Pada Atsar
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “Suatu cacat yang banyak menimpa putra-putra umat ini adalah bahwasanya mereka tidak mengikuti prinsip yang telah dijamin keterjagaannya. Padahal, prinsip itu merupakan jalan kenabian. Keterjagaan sesungguhnya hanya ada pada wahyu, bukan pemikiran. Keterjagaan itu hanyalah ada pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 376). Beliau juga menegaskan, “Sesungguhnya hakikat dari jalan kenabian itu adalah dengan mengikuti atsar/riwayat para pendahulu. Barangsiapa yang menyelisihi jalan ini maka dia tidak berjalan di atas manhaj nubuwwah.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 377)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 80). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksaan yang sangat pedih.” (QS. an-Nuur: 63)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada amir/pemimpin maka dia taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin maka dia durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1835)
Dari Ubaidullah bin Abi Rafi’, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jangan sampai aku jumpai ada diantara kalian seseorang yang bersandar di atas pembaringannya sementara telah datang kepadanya perintah diantara perintah yang aku berikan atau larangan yang aku sampaikan lantas dia justru berkata, “Kami tidak tahu. Apa yang kami temukan dalam Kitabullah maka itulah yang kami ikuti!”.” (HR. Abu Dawud no. 4605, disahihkan Syaikh al-Albani)
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Semua yang sahih berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa syari’at maupun keterangan maka semua itu adalah kebenaran.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 331)
Imam al-Auza’i rahimahullah berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ilmu apapun yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah ilmu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 390-391)
Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu tetap berpegang dengan atsar dan jalan kaum salaf, dan jauhilah olehmu segala ajaran yang diada-adakan, karena itu adalah bid’ah.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 46). Imam Abul Qasim at-Taimi rahimahullah berkata, “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah komitmen mereka untuk ittiba’ kepada salafus shalih dan meninggalkan segala ajaran yang bid’ah dan diada-adakan.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 49)
Imam al-Ashbahani rahimahullah berkata, “Sudah semestinya setiap orang untuk mewaspadai berbagai perkara yang diada-adakan. Karena setiap ajaran yang diada-adakan adalah bid’ah. Sementara Sunnah itu hanya ada pada membenarkan atsar-atsar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap penentangan kepadanya dengan pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Pembicaraan ilmu kalam/filsafat, permusuhan dan perdebatan dalam urusan agama adalah perkara yang diada-adakan. Hal itu akan menanamkan keragu-raguan di dalam hati. Sehingga akan menghalangi dari mengenali kebenaran. Meskipun demikian, ilmu bukan semata-mata diperoleh dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi hakikat ilmu itu adalah dengan ittiba’ dan beramal dengannya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 335)
Imam al-Ashbahani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya pemisah antara kita dengan ahli bid’ah adalah dalam masalah akal. Karena sesungguhnya mereka membangun agamanya di atas pemikiran akal semata, dan mereka menjadikan ittiba’ dan atsar harus mengikuti hasil pemikiran mereka. Adapun Ahlus Sunnah, maka mereka mengatakan : pondasi agama adalah ittiba’ sedangkan pemikiran itu mengikutinya. Sebab seandainya asas agama itu adalah pemikiran niscaya umat manusia tidak perlu bimbingan wahyu, tidak butuh kepada para nabi. Kalau memang seperti itu niscaya sia-sialah makna perintah dan larangan. Setiap orang pun akan berbicara dengan seenaknya. Dan kalau seandainya agama itu memang dibangun di atas hasil pemikiran niscaya diperbolehkan bagi orang-orang beriman untuk tidak menerima ajaran apapun kecuali apabila pemikiran (logika) mereka telah bisa menerimanya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 336)
Beliau rahimahullah juga berkata, “Kita tidak menentang Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan logika. Karena sesungguhnya agama ini diajarkan dengan dasar ketundukan dan kepasrahan. Bukan dengan mengembalikan segala sesuatu kepada logika. Karena hakikat logika yang benar adalah yang membuat orang menerima Sunnah. Adapun logika yang justru membuat orang membatalkan Sunnah, maka sesungguhnya itu adalah kebodohan dan bukan akal/logika yang benar.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 337)
Imam ad-Darimi meriwayatkan dalam Sunannya, demikian juga al-Ajurri dalam asy-Syari’ah, dari az-Zuhri rahimahullah, beliau berkata, “Para ulama kami dahulu senantiasa mengatakan, “Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan.”.” Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Kamu tidak akan salah jalan selama kamu tetap setia mengikuti atsar.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 340). ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu berpegang teguh dengan Sunnah, karena ia -dengan izin Allah- akan menjaga dirimu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 341)
D. Mengikuti Pemahaman Para Sahabat (Salafus Shalih)
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa kaum ahli kitab sebelum kalian berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sungguh agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga; yaitu al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bani Isra’il berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.” Mereka pun bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan: Pada suatu hari tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat mengimami kami, kemudian beliau menghadap kepada kami. Beliau pun memberikan nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang meneteskan air mata dan membuat hati merasa takut. Maka ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah. Apakah yang hendak anda pesankan kepada kami?”. Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan patuh, meskipun pemimpinmu adalah seorang budak Habasyi. Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap ajaran yang diada-adakan itu bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, disahihkan Syaikh al-Albani)
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kami mengikuti Sunnah dan Jama’ah, dan kami menjauhi ajaran-ajaran yang nyleneh, perselisihan, dan perpecahan.” (lihat al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hasyiyah Syaikh Muhammad bin Mani’ dan ta’liq Syaikh Bin Baz, hal. 69 cet. Adhwa’ as-Salaf, dan al-Minhah al-Ilahiyah, hal. 347). Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami)
E. Tinggalkan Semua Kelompok Menyimpang
Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Dahulu orang-orang sering bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir hal itu akan menimpa diriku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami dahulu berada dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah pun menganugerahkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada.” Aku bertanya lagi, “Apakah sesudah keburukan itu masih ada kebaikan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada. Akan tetapi ada kekeruhan di dalamnya.” Aku pun bertanya, “Apakah kekeruhan itu?”. Beliau menjawab, “Yaitu suatu kaum yang mengikuti jalan akan tetapi bukan jalan/Sunnah yang aku tinggalkan, dan mereka mengikuti petunjuk tetapi bukan petunjuk dariku. Kamu bisa mengenali mereka dan mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu masih ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada. Yaitu para penyeru kepada pintu Jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan itu maka mereka akan membuatnya terlempar ke dalam neraka.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Jelaskan kepada kami ciri-ciri mereka.” Beliau menjawab, “Ya. Mereka adalah sekelompok kaum dari kulit bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana menurut anda jika aku mengalami hal itu, apa yang harus aku lakukan?”. Beliau bersabda, “Hendaknya kamu tetap bergabung dengan jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku pun berkata, “Kalau ternyata tidak ada jama’ah/persatuan dan tidak ada lagi imam/pemimpin?”. Beliau menjawab, “Maka tinggalkanlah semua kelompok-kelompok yang ada, meskipun kamu harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dan kamu tetap berada dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847)
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “al-Ikhwan al-Muslimun, apakah mereka berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Para pengikut Jama’ah Tabligh… Harokah… Takfiri… Pemuja Kubur… Penyebar Khurafat… dan para pengikut Hizbut Tahrir… Ini semua adalah kelompok-kelompok. Apakah mereka berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Sama sekali tidak. Kecuali apabila bisa bertemu antara timur dan barat. Kecuali apabila kamu sanggup untuk menyatukan air dengan api dengan tanganmu. Sungguh, tidak mungkin. Ini adalah mustahil. Sesungguhnya orang-orang yang berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hanyalah ahlul hadits, yaitu orang-orang yang setia mengikuti jalan nubuwwah. Mereka berada di atas jalan yang terpuji. Mereka adalah orang-orang yang berjalan mengikuti atsar. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam hal berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta menggigit keduanya dengan gigi-gigi geraham, dan mendahulukan keduanya di atas semua ucapan dan petunjuk. Baik dalam masalah akidah maupun ibadah, muamalah maupun akhlak, politik maupun kemasyarakatan.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 388)
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “Dengan demikian, ilmu adalah apa yang diajarkan oleh para Sahabat -semoga Allah meridhai mereka- sedangkan para sahabat tidaklah membuat ajaran-ajaran baru (bid’ah). Karena sesungguhnya mereka itu semata-mata melakukan ittiba’/mengikuti tuntunan yang ada. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan ittiba’, yang jelas-jelas berseberangan dengan jalan orang-orang yang suka membuat bid’ah. Jalan yang mereka tempuh amat sangat terang dalam hal memerangi para penyeru kebid’ahan. Sebab mereka sendirilah yang menukilkan kepada kita dalil-dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk menjauhi ahlul bid’ah, memusuhi pemujanya, dan supaya berpegang teguh dengan Sunnah dan mencintai para pengikutnya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 393)
Wallahu a’lam bish shawab.
http://abumushlih.com/akhi-belajarlah-terlebih-dulu.html/
A. Landasan Ucapan dan Amalan
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’: 36).
Imam Bukhari rahimahullah membuat bab dalam Shahihnya di dalam Kitab al-’Ilmu sebuah bab dengan judul ‘Ilmu sebelum berkata dan beramal, berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah.” (QS. Muhammad: 19).’ Lalu beliau berkata, “Allah memulai dengan ilmu.” (lihat Fath al-Bari [1/194])
Imam al-’Aini rahimahullah berkata, “Artinya: Ini adalah bab yang akan menerangkan bahwasanya ilmu didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan. Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu hendaknya diilmui terlebih dahulu, baru kemudian diucapkan dan diamalkan. Sehingga ilmu lebih dikedepankan daripada keduanya secara hakikatnya. Demikian pula ilmu lebih diutamakan di atas keduanya dari sisi kemuliaan. Sebab ilmu adalah amalan hati, sementara hati adalah anggota badan yang paling mulia.” (lihat ‘Umdat al-Qari [2/58])
Ibnul Munayyir rahimahullah berkata, “Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa ilmu merupakan syarat benarnya ucapan dan amalan. Sehingga keduanya tidaklah dianggap tanpanya. Maka ilmu itu lebih didahulukan daripada keduanya, sebab ilmu menjadi faktor yang akan meluruskan niat, sedangkan lurusnya niat itulah yang menjadi pelurus amalan. Penulis ingin menggarisbawahi hal itu supaya tidak muncul anggapan dari perkataan sebagian orang bahwa ‘ilmu tidak ada gunanya tanpa amalan’ yang menimbulkan sikap meremehkan ilmu dan bermudah-mudahan dalam mempelajarinya.” (lihat Fath al-Bari [1/195])
Suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Kemudian dia bertanya lagi, “Amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Ilmu”. Lantas lelaki itu berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang amal yang paling utama, lantas kamu menjawab ilmu?!”. Ibnu Mas’ud pun menimpali perkataannya, “Aduhai betapa malangnya dirimu, sesungguhnya ilmu tentang Allah merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah akan menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak menjadi tidak bermanfaat bagimu.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/133])
Qatadah berkata: Sesungguhnya setan tidak pernah membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia pun datang melalui pintu ilmu. Setan mengatakan, “Untuk apa kamu terus-menerus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan semua (ilmu) yang telah kamu dengar, niscaya itu sudah cukup bagimu.” Maka Qatadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa ‘alaihis salam adalah orang yang paling layak untuk merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.” (QS. al-Kahfi: 66) (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136])
B. Ilmu Sebagai Bekal Dakwah
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah -hai Muhammad-: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan tergolong bersama golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar kecuali orang yang padanya terdapat tiga ciri ini: lemah lembut dalam memerintah dan lemah lembut dalam melarang, bersikap adil dalam memerintah dan adil dalam melarang, serta mengetahui apa yang diperintahkan dan mengetahui apa yang dilarang.” (lihat catatan kaki al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 52 ta’liq Syaikh Ruslan)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “.. sesungguhnya perkara yang paling banyak merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Dan yang dimaksud ‘di atas bashirah’ itu bukan ilmu syari’at saja. Akan tetapi ia juga mencakup ilmu mengenai syari’at, ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi, dan ilmu tentang cara untuk mencapai tujuan dakwahnya; itulah yang dikenal dengan istilah hikmah…” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/82]). Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Adapun orang yang berdakwah tanpa bashirah/ilmu, maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.” (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 111)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan kepadaku perkara-perkara yang keji, yang tampak maupun yang tersembunyi, begitu pula dosa, perbuatan melanggar hak, berbuat syirik kepada Allah padahal tidak ada keterangan yang Allah turunkan untuk membenarkannya, dan Allah juga mengharamkan kalian berbicara tentang Allah tanpa landasan ilmu.” (QS. al-A’raaf: 33)
Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Perkara yang paling penting bagi seorang da’i adalah memahami apa yang dia dakwahkan secara global maupun terperinci, supaya dia tidak terjerumus dalam tindakan berfatwa tanpa ilmu.” (lihat transkrip Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 7)
C. Ilmu Ada Pada Atsar
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “Suatu cacat yang banyak menimpa putra-putra umat ini adalah bahwasanya mereka tidak mengikuti prinsip yang telah dijamin keterjagaannya. Padahal, prinsip itu merupakan jalan kenabian. Keterjagaan sesungguhnya hanya ada pada wahyu, bukan pemikiran. Keterjagaan itu hanyalah ada pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 376). Beliau juga menegaskan, “Sesungguhnya hakikat dari jalan kenabian itu adalah dengan mengikuti atsar/riwayat para pendahulu. Barangsiapa yang menyelisihi jalan ini maka dia tidak berjalan di atas manhaj nubuwwah.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 377)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 80). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksaan yang sangat pedih.” (QS. an-Nuur: 63)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada amir/pemimpin maka dia taat kepadaku. Dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin maka dia durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari no. 2957 dan Muslim no. 1835)
Dari Ubaidullah bin Abi Rafi’, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jangan sampai aku jumpai ada diantara kalian seseorang yang bersandar di atas pembaringannya sementara telah datang kepadanya perintah diantara perintah yang aku berikan atau larangan yang aku sampaikan lantas dia justru berkata, “Kami tidak tahu. Apa yang kami temukan dalam Kitabullah maka itulah yang kami ikuti!”.” (HR. Abu Dawud no. 4605, disahihkan Syaikh al-Albani)
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Semua yang sahih berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa syari’at maupun keterangan maka semua itu adalah kebenaran.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 331)
Imam al-Auza’i rahimahullah berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ilmu apapun yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah ilmu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 390-391)
Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu tetap berpegang dengan atsar dan jalan kaum salaf, dan jauhilah olehmu segala ajaran yang diada-adakan, karena itu adalah bid’ah.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 46). Imam Abul Qasim at-Taimi rahimahullah berkata, “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah komitmen mereka untuk ittiba’ kepada salafus shalih dan meninggalkan segala ajaran yang bid’ah dan diada-adakan.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 49)
Imam al-Ashbahani rahimahullah berkata, “Sudah semestinya setiap orang untuk mewaspadai berbagai perkara yang diada-adakan. Karena setiap ajaran yang diada-adakan adalah bid’ah. Sementara Sunnah itu hanya ada pada membenarkan atsar-atsar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan sikap penentangan kepadanya dengan pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Pembicaraan ilmu kalam/filsafat, permusuhan dan perdebatan dalam urusan agama adalah perkara yang diada-adakan. Hal itu akan menanamkan keragu-raguan di dalam hati. Sehingga akan menghalangi dari mengenali kebenaran. Meskipun demikian, ilmu bukan semata-mata diperoleh dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi hakikat ilmu itu adalah dengan ittiba’ dan beramal dengannya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 335)
Imam al-Ashbahani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya pemisah antara kita dengan ahli bid’ah adalah dalam masalah akal. Karena sesungguhnya mereka membangun agamanya di atas pemikiran akal semata, dan mereka menjadikan ittiba’ dan atsar harus mengikuti hasil pemikiran mereka. Adapun Ahlus Sunnah, maka mereka mengatakan : pondasi agama adalah ittiba’ sedangkan pemikiran itu mengikutinya. Sebab seandainya asas agama itu adalah pemikiran niscaya umat manusia tidak perlu bimbingan wahyu, tidak butuh kepada para nabi. Kalau memang seperti itu niscaya sia-sialah makna perintah dan larangan. Setiap orang pun akan berbicara dengan seenaknya. Dan kalau seandainya agama itu memang dibangun di atas hasil pemikiran niscaya diperbolehkan bagi orang-orang beriman untuk tidak menerima ajaran apapun kecuali apabila pemikiran (logika) mereka telah bisa menerimanya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 336)
Beliau rahimahullah juga berkata, “Kita tidak menentang Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan logika. Karena sesungguhnya agama ini diajarkan dengan dasar ketundukan dan kepasrahan. Bukan dengan mengembalikan segala sesuatu kepada logika. Karena hakikat logika yang benar adalah yang membuat orang menerima Sunnah. Adapun logika yang justru membuat orang membatalkan Sunnah, maka sesungguhnya itu adalah kebodohan dan bukan akal/logika yang benar.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 337)
Imam ad-Darimi meriwayatkan dalam Sunannya, demikian juga al-Ajurri dalam asy-Syari’ah, dari az-Zuhri rahimahullah, beliau berkata, “Para ulama kami dahulu senantiasa mengatakan, “Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan.”.” Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Kamu tidak akan salah jalan selama kamu tetap setia mengikuti atsar.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 340). ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu berpegang teguh dengan Sunnah, karena ia -dengan izin Allah- akan menjaga dirimu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 341)
D. Mengikuti Pemahaman Para Sahabat (Salafus Shalih)
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa kaum ahli kitab sebelum kalian berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sungguh agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga; yaitu al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud no. 4597, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bani Isra’il berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.” Mereka pun bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dihasankan Syaikh al-Albani)
Dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan: Pada suatu hari tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat mengimami kami, kemudian beliau menghadap kepada kami. Beliau pun memberikan nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang meneteskan air mata dan membuat hati merasa takut. Maka ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah. Apakah yang hendak anda pesankan kepada kami?”. Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan patuh, meskipun pemimpinmu adalah seorang budak Habasyi. Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku niscaya akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap ajaran yang diada-adakan itu bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, disahihkan Syaikh al-Albani)
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kami mengikuti Sunnah dan Jama’ah, dan kami menjauhi ajaran-ajaran yang nyleneh, perselisihan, dan perpecahan.” (lihat al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hasyiyah Syaikh Muhammad bin Mani’ dan ta’liq Syaikh Bin Baz, hal. 69 cet. Adhwa’ as-Salaf, dan al-Minhah al-Ilahiyah, hal. 347). Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami)
E. Tinggalkan Semua Kelompok Menyimpang
Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Dahulu orang-orang sering bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku khawatir hal itu akan menimpa diriku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami dahulu berada dalam masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah pun menganugerahkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada.” Aku bertanya lagi, “Apakah sesudah keburukan itu masih ada kebaikan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada. Akan tetapi ada kekeruhan di dalamnya.” Aku pun bertanya, “Apakah kekeruhan itu?”. Beliau menjawab, “Yaitu suatu kaum yang mengikuti jalan akan tetapi bukan jalan/Sunnah yang aku tinggalkan, dan mereka mengikuti petunjuk tetapi bukan petunjuk dariku. Kamu bisa mengenali mereka dan mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu masih ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Iya, ada. Yaitu para penyeru kepada pintu Jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan itu maka mereka akan membuatnya terlempar ke dalam neraka.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Jelaskan kepada kami ciri-ciri mereka.” Beliau menjawab, “Ya. Mereka adalah sekelompok kaum dari kulit bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana menurut anda jika aku mengalami hal itu, apa yang harus aku lakukan?”. Beliau bersabda, “Hendaknya kamu tetap bergabung dengan jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku pun berkata, “Kalau ternyata tidak ada jama’ah/persatuan dan tidak ada lagi imam/pemimpin?”. Beliau menjawab, “Maka tinggalkanlah semua kelompok-kelompok yang ada, meskipun kamu harus menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu dan kamu tetap berada dalam keadaan seperti itu.” (HR. Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847)
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “al-Ikhwan al-Muslimun, apakah mereka berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Para pengikut Jama’ah Tabligh… Harokah… Takfiri… Pemuja Kubur… Penyebar Khurafat… dan para pengikut Hizbut Tahrir… Ini semua adalah kelompok-kelompok. Apakah mereka berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Sama sekali tidak. Kecuali apabila bisa bertemu antara timur dan barat. Kecuali apabila kamu sanggup untuk menyatukan air dengan api dengan tanganmu. Sungguh, tidak mungkin. Ini adalah mustahil. Sesungguhnya orang-orang yang berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hanyalah ahlul hadits, yaitu orang-orang yang setia mengikuti jalan nubuwwah. Mereka berada di atas jalan yang terpuji. Mereka adalah orang-orang yang berjalan mengikuti atsar. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam hal berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta menggigit keduanya dengan gigi-gigi geraham, dan mendahulukan keduanya di atas semua ucapan dan petunjuk. Baik dalam masalah akidah maupun ibadah, muamalah maupun akhlak, politik maupun kemasyarakatan.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 388)
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah berkata, “Dengan demikian, ilmu adalah apa yang diajarkan oleh para Sahabat -semoga Allah meridhai mereka- sedangkan para sahabat tidaklah membuat ajaran-ajaran baru (bid’ah). Karena sesungguhnya mereka itu semata-mata melakukan ittiba’/mengikuti tuntunan yang ada. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan ittiba’, yang jelas-jelas berseberangan dengan jalan orang-orang yang suka membuat bid’ah. Jalan yang mereka tempuh amat sangat terang dalam hal memerangi para penyeru kebid’ahan. Sebab mereka sendirilah yang menukilkan kepada kita dalil-dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk menjauhi ahlul bid’ah, memusuhi pemujanya, dan supaya berpegang teguh dengan Sunnah dan mencintai para pengikutnya.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 393)
Wallahu a’lam bish shawab.
http://abumushlih.com/akhi-belajarlah-terlebih-dulu.html/
Langganan:
Postingan (Atom)