Selain memberi nafkah dan mencari rezeki,
tanggungjawab suami juga bimbing anak dan isteri. Kalau suatu hari
berselisih faham, tahan menuding jari. Duduk bebincang dan cari kata
sepakat. Tiada bumi tak ditimpa hujan.
Berap ramai pasangan
suami isteri hari ini bercerai di usia perkawinan yang masih muda. Mudah
sekali menyatakan semuanya Takdir Tuhan, berpisah lantaran tiada lagi
kesefahaman. Ikatan suci yang bermula dengan kasih dan cinta, berakhir
dengan sengketa dan buruk sangka.
Saling memahami antara suami dan
isteri bukan bisa dicapai sehari dua hari. Ia merupakan suatu perjalanan
sepanjang usia perkawinan. Tantangan dan cobaan pastinya tidak sama, di
awal, pertengahan dan di ujungnya. Sikap saling memberi dan menerima
dipupuk. Memberi kelebihan diri untuk saling melengkapi. Menerima
kekurangan untuk saling menginsyafi.
Memandang kelebihan pasangan daripada kekurangannya, insya Allah akan rasa sayang dan mempercayai seterusnya menghargainya.
Kaum wanita perkara remeh suamipun bisa jadi masalah besar, padahal
bisa diatasi dengan cara berhikmah. Wanita, Allah jadikan peka dan
perasa sedang lelaki sebaliknya, lebih fokuskan pada perkara yang besar
dan isu yang lebih berat.
Isteri suka mengikuti emosi tanpa
berfikir panjang. Cepat lupa kebaikan orang termasuk suami apabila
berlaku sesuatu yang tidak mencapai kepuasan hati.
Fitrah manusia,
dalam keadaan marah, sedikit sebanyak akan hilang pertimbangan. Menjaga
keseimbangan hati, perasaan, dan pikiran, penting dalam menghadapi suatu
ujian atau krisis, bukan saja dalam ujian rumah tangga tapi dalam
masalah-masalah lain jua.
Adakalanya, isteri masam tanpa
sepatah kata. Suami yang tidak tahu menahu, terus bersikap biasa. Maka
isteri semakin masam, hilang cerianya. Menahan ego diri, ingin dipujuk
dengan kata cinta, namun tidak berbicara dan bersemuka. Suami
bertanya-tanya sendiri, akhirnya terasa hati. Salah siap kiranya, bila
masing-masing memendam rasa. Kasih mulai bertukar marah. Marah marak
menyala benci.
Ada suami yang tak pandai urusan rumah tangga,
namun dia bijak berjenaka, memeriahkan suasana. Ada suami yang jarang
menghadiahkan bunga, tapi selalu membelanjakan anak isteri dengan
makanan istimewa. Dan banyak juga suami yang tidak biasa memujuk,
bermain kata. Tapi mudah bertoleransi bila diminta bantu sini dan sana.
Ketepikan kekurangannya dan ambil kelebihan. Pasti akan merasa bertuah
memiliki pasangan hidup seperti “dia”. Senantiasa ‘memandang tinggi’
kehadiran pasangan kita.
Bukan hendak menuding jari pada salah
satu semata-mata tanpa menyebut langsung silaf di pihak satunya. Bumi
mana yang tidak tertimpa hujan, langit mana yang selalu cerah. Sedangkan
lidah lagi tergigit, inikan pula sebagai manusia baik itu suami maupun
seorang isteri yang asal dari latar berbeda.
Marilah kiranya
menyusun jemari minta maaf dari lelaki benama suami/ wanita bernama
isteri. Usak bertangguh lengah. Pandang wajahnya. Lihat matanya. Bisikan
disanubari, “Terima kasih kekasihku. Engkau terbaik untiukku.”
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=290507837682582&set=a.244521135614586.58029.153300751403292&type=1
Minggu, Februari 26, 2012
Sabtu, Februari 18, 2012
MENANGISLAH ...
Menangislah Saudaraku ...
Ketika diri tidak ringan bergerak dalam berbuat taat...
Menangislah ..
Ketika kenikmatan dunia senantiasa menghujani namun amal soleh tidak berbanding lurus dan meningkat dengan kenikmatan yang diterima. Dimanakah letak kurangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita? Kita senantiasa menuntut hak kita terhadap Allah SWT, namun rasa syukur kita ketika mendapat nikmat-Nya tak pernah kita tunjukan dihadapan-Nya walau hanya sekedar ucapan “Alhamdulillah”.
Kita malah terlupa dan kadang lupa diri, bahwa apapun nikmat yang kita terima sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Terkadang, kebanyakan dari kita hanya ingat kepada-Nya sewaktu diri tertimpa musibah dan kesempitan dalam hidup. Padahal, dengan mengingat Allah SWT disaat lapang dan kebahagiaan hidup menghampiri akan mendatangkan kecintaan Allah SWT dan insya Alloh di saat kesusahan menghampiri kehidupan, Allah SWT akan berbalik mengingat kita...
Menangislah ..
Untuk mengharapkan datangnya pertolongan Allah SWT terhadap diri kita, sehingga Dia mengaruniakan kekuatan dan pertolongan untuk memudahkan kita dalam rangka mendekat kepada-Nya.
Menangislah ..
Untuk setiap dosa yang pernah kita rajut dalam kehidupan walau kita tak akan mampu menghitung betapa besarnya keingkaran diri melebihi ketaatan kita kepada-Nya.
Pernahkah kita menangis atas kurangnya bekal persiapan untuk akhirat kita? Tempat yang kekal dan tujuan puncak kehidupan yang bekalnya kita persiapkan melalui dunia ini.
Menangislah ..
Sebagai tanda kelembutan dan hidupnya hati yang senantiasa siap untuk menerima nasehat dan kebenaran yang datang.
Menangislah saudaraku ..
karena Allah .. dan hanya untuk Allah semata ...
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan-Nya serta menjauhkan kita dari sifat tercela ...Aamin ya Rahman ya Rahim ..
karena tanpa pertolongan dan Rahmat Nya , tak seorangpun mampu melakukan kebajikan di atas permukaan bumi ini..
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.285295444870488.65934.153300751403292&type=1
Ketika diri tidak ringan bergerak dalam berbuat taat...
Menangislah ..
Ketika kenikmatan dunia senantiasa menghujani namun amal soleh tidak berbanding lurus dan meningkat dengan kenikmatan yang diterima. Dimanakah letak kurangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita? Kita senantiasa menuntut hak kita terhadap Allah SWT, namun rasa syukur kita ketika mendapat nikmat-Nya tak pernah kita tunjukan dihadapan-Nya walau hanya sekedar ucapan “Alhamdulillah”.
Kita malah terlupa dan kadang lupa diri, bahwa apapun nikmat yang kita terima sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Terkadang, kebanyakan dari kita hanya ingat kepada-Nya sewaktu diri tertimpa musibah dan kesempitan dalam hidup. Padahal, dengan mengingat Allah SWT disaat lapang dan kebahagiaan hidup menghampiri akan mendatangkan kecintaan Allah SWT dan insya Alloh di saat kesusahan menghampiri kehidupan, Allah SWT akan berbalik mengingat kita...
Menangislah ..
Untuk mengharapkan datangnya pertolongan Allah SWT terhadap diri kita, sehingga Dia mengaruniakan kekuatan dan pertolongan untuk memudahkan kita dalam rangka mendekat kepada-Nya.
Menangislah ..
Untuk setiap dosa yang pernah kita rajut dalam kehidupan walau kita tak akan mampu menghitung betapa besarnya keingkaran diri melebihi ketaatan kita kepada-Nya.
Pernahkah kita menangis atas kurangnya bekal persiapan untuk akhirat kita? Tempat yang kekal dan tujuan puncak kehidupan yang bekalnya kita persiapkan melalui dunia ini.
Menangislah ..
Sebagai tanda kelembutan dan hidupnya hati yang senantiasa siap untuk menerima nasehat dan kebenaran yang datang.
Menangislah saudaraku ..
karena Allah .. dan hanya untuk Allah semata ...
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan-Nya serta menjauhkan kita dari sifat tercela ...Aamin ya Rahman ya Rahim ..
karena tanpa pertolongan dan Rahmat Nya , tak seorangpun mampu melakukan kebajikan di atas permukaan bumi ini..
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.285295444870488.65934.153300751403292&type=1
Labels:
family,
saudariku...,
ya Robbi...
Jumat, Februari 03, 2012
MENCINTAI DALAM HENING
Duhai gadis..
maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah..?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..
Maka dengarlah..
Gadis..Saat ku jatuh cinta..Tak akan ku berucap..Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai..takkan pernah ku menyatakan..Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu..cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan..Karena rasa itu adalah cahaya..
Aku tahu..hidup tanpa cinta..bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa..maka hadapi dgn anggun..
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi..dengan begitu banyak warna...
Cinta terkadang mebuatmu bahagia..namun tak jarang mbuatmu menderita..
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula..Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir..
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku..maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita..
Maka gadis..
Agar kau dapat keluar dari belenggu itu..Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening..Dalam diam..
Tak perlu kau lari..tak perlu kau hindari..
Namun juga..jangan kau sikapi dgn berlebihan..
Jangan kau umbar rasamu..Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan? ..Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia..Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya..?
Jadi..apa yang kau risaukan..? Biarkan Allah yg mengaturnya..
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta..belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja..yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam..
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu..?
Gadis..kita tak tahu dan tak akan pernah tahu Hingga saatnya tiba..
Maka ku ingatkan padamu..
tidakkah kau malu jika semua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya..?
Gadis..Karena cintamu begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis..
fitrahmu wanita adalah pemalu..Dan kau indah karena sifat malumu..
jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dalam hening...
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu..Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka ku beritahukan padamu..
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan..bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan..hanya cukup kau arahkan..
Gadis...
yang kau butuhkan hanya waktu..sabar dan percaya..
Maka..peganglah kendali hatimu..Lalu Arahkan pada-Nya..
Dan cintailah dalam diam..Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..Jauh lebih suci..
maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah..?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..
Maka dengarlah..
Gadis..Saat ku jatuh cinta..Tak akan ku berucap..Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai..takkan pernah ku menyatakan..Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu..cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan..Karena rasa itu adalah cahaya..
Aku tahu..hidup tanpa cinta..bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa..maka hadapi dgn anggun..
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi..dengan begitu banyak warna...
Cinta terkadang mebuatmu bahagia..namun tak jarang mbuatmu menderita..
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula..Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir..
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku..maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita..
Maka gadis..
Agar kau dapat keluar dari belenggu itu..Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening..Dalam diam..
Tak perlu kau lari..tak perlu kau hindari..
Namun juga..jangan kau sikapi dgn berlebihan..
Jangan kau umbar rasamu..Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan? ..Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia..Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya..?
Jadi..apa yang kau risaukan..? Biarkan Allah yg mengaturnya..
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta..belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja..yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam..
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu..?
Gadis..kita tak tahu dan tak akan pernah tahu Hingga saatnya tiba..
Maka ku ingatkan padamu..
tidakkah kau malu jika semua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya..?
Gadis..Karena cintamu begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis..
fitrahmu wanita adalah pemalu..Dan kau indah karena sifat malumu..
jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dalam hening...
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu..Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka ku beritahukan padamu..
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan..bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan..hanya cukup kau arahkan..
Gadis...
yang kau butuhkan hanya waktu..sabar dan percaya..
Maka..peganglah kendali hatimu..Lalu Arahkan pada-Nya..
Dan cintailah dalam diam..Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..Jauh lebih suci..
Labels:
family,
fiqih,
pendidikan,
saudariku...
Sabtu, Januari 21, 2012
Perempuan Cahaya...
Engkaulah perempuan cahaya..
Ibadahmu tercurah atasNya. Kau tutup auratmu demi kesungguhan
penghambaanmu terhadapNya. Bukan hanya sebagai pemanis dirimu saja,bukan
hanya sebagai trend semata,bukan hanya karna takut dis ebut Kuper.
Kau sangat anggun dengan jilbabmu,tanpa harus mengikat krudungmu ke
leher sampai engkau sulit bernafas. Kau sangat cantik dengan jilbab mu
yang tergerai indah,tapa harus menonjolkan auratmu. Kau sangat
indah,tanpa harus kau perlihatkan pada dunia keindahan tubuhmu.
Engkaulah Perempuan Cahaya..
Patuhmu terhadap Sang Kekasih,kau aplikasikan terhadap suamimu.
Kau balut kepatuhanmu dengan kesantunan. Kau hilangkan rasa malu ketika
berduaan dengan suamimu,tapi kau bungkus dirimu dengan rasa malu ketika
kau keluar rumah.
Sungguh,kepatuhanmu selain ibadahmu adalh pengantarmu untuk menghadap Sang Kekasih sejati.
Engkau lah perempuan cahaya..
Penghambaan terhadap Sang Maha Penyayang,kau tunjukkan dengan kasih sayangmu terhadap sesama.
Sedekah mu tak pernah kau ingkar. Tutur katamu selalu teruntaikan
nasehat. Bahasamu penuh kelembutan tapi kokoh bagai karang. Gerakmu kau
pastikan untuk kemanfaatan. Matamu tertuju pada kebenebaran.
Sungguh hatimu pun telah terisi penuh penghambaan terhadapNya.
Engkaulah Perempuan Cahaya..
Sikap berserah membuatmu senantiasa tercerah,penuh cahaya keindahan.
Sikap bersandar padaNya senantiasa membuatmu tersadar,tak akan selamanya
kau hidup di dunia.
Keyakinanmu melahirkan sikap yang
senantiasa menyadari bahwa hanya Dia yang kekal,sedangkan dirimu dan
alam ini terus menerus berubah atas kehendakNya.
Engkaulah Perempuan Cahaya..
Kau jaga keimananmu dengan air mata pengharapan. Kau kerap takut
terlalaikan akan kebahagiaan yang terhampar di depanmu. Kau kerap
menggigil saat hatimu di terobos nafsu syetan,nafsu selalu terhenti
untuk menikamti segala yang semu dan palsu.
Sungguh,kau jaga keimananmu meski air matamu telah mengering.
http://www.facebook.com/pages/Bukan-Muslimah-Biasa/111818832202075
Labels:
family,
pendidikan,
saudariku...,
ya Robbi...
MOTIVASI UNTUK DAPAT ISTIQOMAH DENGAN AL QU'RAN
Sahabat yang dirahmati Allah,
Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah berinteraksi dengan Al Qu'ran. Nikmat membaca kalam - kalam NYA , nikmatnya merasakan seakan-akan kita berbicara dengan NYA, nikmat merasakan Al Qur'an mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita , nikmatnya Al Qur'an menjadi petunjuk pembeda antara yang haq dan yang batil, serta nikmat syafaat kelak bagi sesiapa yang ikhlas senantiasa membaca & bersahabat dengan AL Qur'an. (Insya Allah)
Untuk memulai langkah mencintai Al Qur'an . Berikut upaya-upaya jiwa untuk mampu senantiasa bersahabat dengan nya :
I MENDAMBAKAN AL QUR'AN SEBAGAI KENIKMATAN SEPERTI KITA MENDAMBAKAN HARTA
“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)
Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya - misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat mendambakannya.
Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.
Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:
1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?
Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.
2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).
Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)
3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)
4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)
Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?
Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.
Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah
II. MERAYU ( MEMOTIVASI) DIRI/JIWA SENDIRI AGAR MENCINTAI AL QUR'AN
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:
1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:
1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah Swt?
Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan bagi setiap jiwa, agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna...
“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)
Semoga Allah memberi kemampuan bagi kita semua ...
Aamiin yaa Robbal Alamiin,,
oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz
Wallahu'alam
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=265426910190675&set=a.265426080190758.62637.153300751403292&type=3&theater
Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah berinteraksi dengan Al Qu'ran. Nikmat membaca kalam - kalam NYA , nikmatnya merasakan seakan-akan kita berbicara dengan NYA, nikmat merasakan Al Qur'an mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita , nikmatnya Al Qur'an menjadi petunjuk pembeda antara yang haq dan yang batil, serta nikmat syafaat kelak bagi sesiapa yang ikhlas senantiasa membaca & bersahabat dengan AL Qur'an. (Insya Allah)
Untuk memulai langkah mencintai Al Qur'an . Berikut upaya-upaya jiwa untuk mampu senantiasa bersahabat dengan nya :
I MENDAMBAKAN AL QUR'AN SEBAGAI KENIKMATAN SEPERTI KITA MENDAMBAKAN HARTA
“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)
Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya - misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat mendambakannya.
Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.
Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:
1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?
Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.
2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).
Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)
3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)
4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)
Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?
Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.
Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah
II. MERAYU ( MEMOTIVASI) DIRI/JIWA SENDIRI AGAR MENCINTAI AL QUR'AN
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:
1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:
1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah Swt?
Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan bagi setiap jiwa, agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna...
“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)
Semoga Allah memberi kemampuan bagi kita semua ...
Aamiin yaa Robbal Alamiin,,
oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz
Wallahu'alam
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=265426910190675&set=a.265426080190758.62637.153300751403292&type=3&theater
Jumat, Januari 13, 2012
Jangan Duakan Aku!
Bismillahirrahmanirrahim…
“Mana ada wanita yang mau diduakan? ngerasa dikhianati.” Aku menangis tersedu di pundak sahabatku.
“Sabar..sabar,” kata sahabatku enteng.
“Ah..kamu enak bilang sabar, nggak ngerasain apa yang sedang aku rasakan sekarang!”
Sahabatku tersenyum penuh arti,”paling
nggak enak memang kalau diduakan, merasa dikhianati, merasa dibohongi,
merasa dibodohi, dan merasa-merasa yang lainnya. Kamu berpikir seperti
itu karena diduakan pacar kamu, pernah nggak kamu berpikir kalau kamu
telah menduakan Dzat yang menciptakan wajahmu sehingga kamu disukai
karena kecantikanmu?”
Tiba-tiba saja air mataku terhenti, berganti dengan keterpanaan atas ucapan sahabatku.
***
Saat kita diduakan oleh pasangan, kita
merasa dikhianati. Tapi kita tidak menyadari bahwa kita sedang
menduakan-Nya, bukankah berarti kita sedang mengkhianati-Nya?
Disadari atau tidak, banyak dari kita
yang lupa bahwa kita lebih mementingkan makhluk-Nya daripada
Penciptanya. Bahkan kita sering kali lebih mencintai apa yang tampak
dihadapan kita seperti harta, tahta juga pasangan kita.
Memang tidaklah mudah melepaskan diri
dari keterikatan hati pada sesuatu yang kita cintai, kita bahkan sering
memenuhi pikiran dan perasaan kita dengannya. Namun, bukan lagi sebuah
pilihan tapi menjadi sebuah keharusan ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala
menjadi yang pertama dan terbesar di hati kita.
“Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2] : 165)
Sungguh,
sangat disayangkan jikalau kita lupa akan cinta Allah Subhanahu Wa
Ta’ala kepada kita, karena mata dan hati kita telah ditutupi kecintaan
pada makhluk-Nya. Kita membutakan diri dari cinta-Nya dan jatuh cinta
pada penghambaan kepada dunia,padahal jelaslah apa yang ada di dunia ini
tidaklah kekal sedangkan kita justru menjauihi kenikmatan yang kekal.
Bagaimana kalbu akan bersinar dengan
cinta-Nya sedangkan gambaran cinta pada harta, tahta, apalagi pasangan
melekat erat di hati? Kita tak pernah mau diduakan, tak pernah mau
dikhianati, tapi bagaimana mungkin hati bisa dengan mudah berkhianat dan
menduakan-Nya?
Namun sadarkah kita? Ketika kita sibuk
mencintai pasangan kita dan lupa akan cinta Allah, Allah Subhanahu Wa
Ta’ala tak pernah berpaling sedikit pun atau lupa memberikan cinta-Nya
pada kita. Bukankah ini tidak adil? Masih kah kita terus menuntut
keadilan pada Allah Azza Wa Jalla sedangkan kita masih tidak mampu adil
pada-Nya?
Benarlah, bahwa kita memang tidak mampu
melepaskan cinta pada makhluk-Nya terlebih pada pasangan kita, tapi
bukan berarti kita jadi melupakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Alangkah
menyenangkannya jika kecintaan kita pada pasangan karena kecintaan kita
yang teramat sangat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Orang-orang yang mencintai karena Allah
Subhanahu Wa Ta’ala akan mengaplikasikan cintanya untuk orang yang dia
kasihi dengan perbuatan dan perilaku menuju sebuah kebenaran bukan pada
sebuah kemaksiatan, seperti yang sering kita lihat, mengaku mencintai
karena Allah namun khalwat terus berjalan.
Sahabat BMB, mari kita buka mata dan
hati kita. Jangan duakan Dia dengan cinta selain-Nya, karena kita pun
sebagai manusia enggan diduakan apalagi merasa dikhianati. Jadilah orang
yang berpikir cerdas, yang berusaha memperoleh puncak kesadaran dan
kearifan hidup. Tidak pernah mau berpaling dari-Nya, sebab kita sangat
membutuhkan-Nya. Bersama-Nya kita akan makin memahami arti cinta
sesungguhnya.
Allahu a’lam bish shawwab.http://www.bukanmuslimahbiasa.com/2011/09/jangan-dua-kan-aku.html
Langganan:
Postingan (Atom)