Ketika kita jatuh cinta, dan mendambakan seseorang jadi jodoh kita. . . .
Namun kita tetap diam, mengendalikan hati untuk tidak tergesa-gesa mengutarakannya, maka yang ada adalah harapan. . .
Do'a kebaikan untuknya tak lupa kta panjatkan..
Semoga ia mampu menjadi hamba yang beriman..
Mengisi hari dengan perbaikan..
Semoga saja Allah mempertemukan, dan mempersatukan di saat yang tepat..
Saat dimana hanya ada perkenalan dengan cara islam yang berlanjut dengan lamaran, bukan lewat penjajakan yang bertema Pacaran.
Namun, kita pun tak kan menyalahkan .
Jika Allah TIDAK menghendaki kita berjodoh dengannya karena mungkin ada
seseorang yang lebih baik dari kita untuknya, dana ada yng lebih baik
dari dia untuk kita. . .
itulah nilai kepasrahan.
Namun.. Ketika kita jatuh cinta..
Lalu kita menjalin ikatan dengannya. Meski hanya di dunia maya..
Meski hanya ingin lebih jauh mengenalnya..
Maka Syaitan akan ikut mengambil bagian
Menyiksa hatimu dengan rindu yang menggebu.. Kemudian rindu berganti
obrolan penuh kehangatan, tentang masa depan yang akan kita bangun
bersama. Senda gurau dan kemesraan yang kita bina seolah terasa indah ,
seolah tak ada yang salah. Kita tidak sadar bahwa apa yang sedang kita
lakukan sekarang belum lah halal untuk dilakukan, dia bukan mahrom mu
Kau telah lalai dari mengingat-Nya, kau telah lupa ada Allah yang
mengawasimu. . .mengawasi kemesraan yang belum berhak kau nikmati
bersamanya.
Kerinduan berlanjut dengan impian sebuah pertemuan,
Pertemuan yang berujung dengan sebuah gandengan.. Pertemuan yang
berujung dengan pelukan kemudian hati menjadi bergantung padanya. . .
Seolah yang menciptakan kebahagiaan di dunia kita hanyalah dia
Seolah tanpa dia hidup kita tak kan ada artinya
Seolah tanpa dia kita kan kehilangan nyawa.
Akhirnya.. Ketika perpisahan terjadi, karena Allah tak menghendaki kau
dan dengannya hidup bersama. Kau terpuruk dan putus asa..
Hidup seolah tak lagi berwarna, bahkan tak jarang sampai tak sudi lagi hidup di dunia.
Lalu ketika cinta terhalang perbedaan agama, hukum Allah berani
dilanggarnya. Padahal Allah jelas tak mengizinkan, seorang
muslim/muslimah menikah dengan orang kafir sebelum mereka beriman
meskipun mereka menarik hatimu atau ketika sang kekasih mengjaknya
pindah agama.. atas nama cinta murtad pun berani dipilihnya..
Naudzubillah...
Semua orang berhak mencintai dan dicintai.. Tapi bukan cinta yang tak diridhai.
Cinta selain Karena-Nya hanya akan membawa kita pada penyesalan..
Penyesalan abadi. Kebahagiaan yang harus dipilih seorang muslim haruslah
kebhagiaan yang abadi.. Kebahagiaan yang hakiki.. Kebahagiaan yang ada
disisi-Nya. Di Jannah-Nya.
Maka.. Mari saling mengingatkan dalam menetapi kesabaran..
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
“Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya
Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang dusta.” (QS al-‘Ankabuut [29]: 2-3)
Segala sesuatu yang hendak menjauhkan kita dari-Nya hanyalah ujian..
Segala sesuatu yang hendak memaksa kita melanggar aturann-Nya hanyalah ujian..
Segala sesuatu yang hendak membuat kita mendustai Janji-Nya hanyalah ujian..
Mari mendekatkan diri pada-Nya, mari mencintai-Nya dengan sebenar-benar
mencinta.. Maka kau akan tahu, sesuatu yang membuatmu hilang kenikmatan
menyembah pada-Nya akan segera engkau tinggalkan.
Izinkan Kami
menikah tanpa Pacaran, Dengan penuh Kesabaran.. Dengan Penuh
Perjuangan, Kemenangan itu ada jadwalnya, dan semua akan menjadi indah
pada saatnya nanti dengan Ridha-Mu..
Aamiin..
Minggu, April 22, 2012
Senin, Maret 05, 2012
::: MERAIH PERTOLONGAN ALLAH :::
Bismillahirrahmanirrahim
Saudaraku Fillah.....
Abdullah bin Abbas pernah bercerita.
“Suatu hari aku berjalan di belakang Rasulullah SAW. Saat itu beliau bersabda, ”Nak, kuajarkan kepadamu beberapa kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niascaya Dia akan senantiasa bersamamu. Bila kau minta, maka mintalah kepada Allah. Bila kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua manusia bersatu untuk memberikan sebuah kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis untukmu. Jika semua manusia bersatu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering”.
Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi ini diungkapkan pula dalam redaksi berbeda.
“Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah diwaktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan kesulitan”.
Saudaraku, , padat namun cakupan maknanya teramat dalam dan luas. Dalam hadis Rasulullah Saw. memberikan kunci-kunci bagaimana mendapatkan pertolongan Allah. Satu pesan utama hadis ini adalah “penghambaan” kepada Allah. Laa haula walaa quwwata illa billahil. Tiada daya maupun upaya selain atas kekuatan Allah. Saat kita menyadari kekerdilan diri di hadapan Allah, maka pertolongan Allah akan mendatangi kita. Bukankah kita makhluk lemah, sedangkan Allah Maha Menggenggam segalanya?
Saya bertanyalah kepada seorang guru, “Bagaimana caranya agar doa kita cepat dikabul oleh Allah?”. Beliau menjawab, “Saat kau berdoa, saat kau munajat, atau saat kau sujud, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkannya. Semoga rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu.”
Pertolongan Allah itu pasti. "Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah pasti akan menolong kalian dan mengokohkan pijakan kalian," (Qs. Muhammad: 7).
Jadi, kunci terpenting agar kita ditolong Allah adalah dengan sungguh-sungguh menghamba kepada-Nya. Saat kita ingin dimuliakan Allah, maka akuilah kehinaan kita di hadapan Allah. Saat kita ingin dilebihkan, maka akui kekurangan kita di hadapan Allah. Saat kita ingin dikuatkan Allah, maka akui kelemahan kita di selemah-lemahnya di hadapan Allah.
Seorang ulama bijak berkata,
“Buktikan dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuatan-Nya.”
Kesimpulannya, Allah menjadikan pertolongan-Nya pada orang beriman hanya bila ada upaya dan usaha dari diri mereka sendiri. Ia tidak memberi pertolongan sebagai sesuatu yang dijatuhkan begitu saja dari langit. Apa saja upaya yang harus dilakukan sehingga kita layak mendapat pertolongnan Allah?
~ Pertama, membersihkan niat beramal dari segala motivasi yang tidak bersih. Itulah ikhlas. Ikhlas adalah kunci pertama yang paling penting bagi terbukanya pintu pertolongan Allah. Nilai suatu pekerjaan sangat tergantung dari kadar keikhlasan pelakunya. Meski secara zahir suatu pekerjaan itu berat dan tampaknya untuk membela kepentingan Islam, namun bila pelakunya tidak memiliki niat yang ikhlash, maka amalnya akan sia-sia. Kalau tidak justru mendatangkan siksa.
~ Kedua, berdo’a dengan penuh kepasrahan pada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Berdo‘alah kepada Rabbmu dengan rasa takut dan suara lirih …”(Qs. Al-A’raf: 55) Berdo’a dengan rasa takut dan suara lirih, merupakan salah satu bentuk kesungguhan dan kepasrahan di hadapan Allah
~ Ketiga, yakini bahwa kehidupan ini adalah ladang amal yang tanpa batas untuk meraih kebahagiaan di akhirat.
~ Keempat, hindarilah mengatakan bahwa kita sudah habis kesabaran menghadapi keadaan yang tidak sesuai
~ Kelima, pantang berputus asa dari rahmat Allah. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tiga golongan yang kelak tidak akan diperiksa lagi perkaranya (di akhirat). Yaitu …. orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah.” (HR. Thabrani, Abu Ya’la, dan Bukhari dalam kitab Adab)
~ Keenam, tetap memelihara sikap istiqamah. Utamanya dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat. Orang yang istiqamah atau berpegang teguh pada petunjuk Allah akan selalu tertuntun pada kebenaran. Orang yang istiqamah menjalani kehidupan di dunia ini akan dibebaskan oleh Allah dari perasaan resah, takut, dan khawatir menghadapi segala ujian dan cobaan hidup.
~ Ketujuh, jangan sekali-kali menyalahkan ketentuan Allah. Apalagi bila kemudian dilanjutkan dengan do’a untuk keburukan.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sekali-kali seorang muslim di bumi ini berdo’a pada Allah meminta suatu permintaan, melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta atau memalingkan darinya suatu kejahatan yang semisal dengan permintaannya, selagi ia tidak berdo’a meminta suatu dosa atau memutuskan silaturahmi.” Maka ada seseorang berkata, “kalau demikian, kami akan memperbanyak (berdo’a)." Beliau menjawab, “Allah Maha Memberi." (HR. Tirmidzi),
~ Kedelapan, pelajari dan lakukan sebab-sebab logis bagi datangnya pertolongan Allah. Pertolongan Allah tidak akan datang bagi seseorang yang tidak mau melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan keberhasilan, sesuai sunnatullah dalam alam semesta. Keinginan untuk lulus dalam ujian, harus dibarengi dengan upaya belajar dengan baik.
Saudaraku, sekali lagi, kekuatan terbesar yang kita miliki bukanlah kekuatan fisik, intelektual, kekuasaan ataupun harta kekayaan. Kekuatan terbesar kita adalah “pertolongan Allah”. Pertolongan Allah ini sangat dipengaruhi kualitas keyakinan kita kepada-Nya. Kualitas keyakinan biasanya akan melahirkan kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah akan melahirkan akhlakul karimah, seperti kualitas sabar, syukur, ikhlas, tawadhu, iffah, zuhud, qanaah, dsb. Karena itu, kemuliaan akhlak tergantung dari sejauh mana kita mengenal Allah.
Yakinlah, Allah sungguh sayang dan sangat dekat kepada hamba-hamba Nya , jauh lebih dekat dari urat lehernya ... Maka beramal ibadah dan berdoalah dengan ikhlas penuh penghambaan dan segenap Cintamu kepada Nya ..
Wallaahu a’lam
Salam santun ukhuwah & keep istiqomah
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=295023030564396&set=a.244521135614586.58029.153300751403292&type=1
Sabtu, Maret 03, 2012
Rahasia Jodoh
Makhluk yang pertama kali Dicipta Allah adalah al-qalam. Dengan al-qalam, Allah menuliskan takdir manusia dalam Lauhil Mahfuzh, induk segala kitab. Salah satu yang tertulis di sana, adalah jodoh. Jadi, jodoh adalah sebuah ketetapan dari Allah Azza wa Jalla. Ia akan datang, meskipun saat ini barangkali kita belum siap, atau tak juga datang meskipun kita merasa sangat siap. Seorang guru saya pernah mengatakan, pernikahan itu ibarat kematian, kita tak bisa memprediksi, hanya bisa mempersiapkan.
Jadi, sikap terbaik menghadapi hal yang satu ini adalah TAWAKAL. Tetapi, jangan abaikan ikhtiar. Ikhtiar sangat perlu, hanya saja, Allah memiliki sifat Qudrat dan Iradat yang perlu kita hadapi dengan kepasrahan.
Ada beberapa pandangan saya mengenai pernikahan, semoga bisa menjadi bahan diskusi.
1. Pernikahan adalah bentuk ibadah, jadi jangan pernah ada kata ITSAR dalam pernikahan. Jika ada seorang meminang, dan secara dien dia baik, kemudian kita merasa mantap, mengapa kita menolaknya?
2. Sebuah ibadah, bisa diterima atau tidak, tergantung NIAT dan cara pelaksanaannya. Maka, nikah bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang. Ia bahkan awal dari sebuah perjalanan yang melelahkan. Niat bisa berubah di tengah-tengah proses, bahkan menjelang akhir proses, kematian. Maka, mari kita selalu meng-up-grade niat, dan memperbaiki cara kita berinteraksi dengan pasangan kita, meski usia pernikahan sudah tak terbilang muda. Lima tahun, sepuluh tahun, tiga puluh tahun?
3. Nikah adalah separuh dien. Jika baik, ia adalah separuh jalan menuju surga. Tetapi jika buruk, maka… ia adalah separuh jalan menuju neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.
4. Nikah bukanlah sebuah pesta pora. Bukanlah prestasi. Bukanlah sebuah kemenangan. Bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan. Jadi, jagalah sikap kita. Seringkali para pasangan muda terlalu over memamerkan kemesraannya di hadapan orang-orang yang masih lajang.
5. Ketika kita menikah, amanah kita bertambah. Ketika punya anak, semakin bertambah lagi. Maka, hisab kita di akhirat kelak, akan semakin panjang. “Bagaimana kau bersikap terhadap pasanganmu, anak-anakmu, mertuamu, adik-kakak iparmu, dst…” Jadi, wahai para lajang, yang telah ingin menikah namun karena takdir Allah, pasangan belum datang, sesungguhnya beban antum wa antunna kelak di akhirat, jauuuuuh lebih ringan daripada para ibu, para bapak, yang kerepotan dengan anak-anak mereka. Bukankah Surga itu jauh lebih indah daripada apapun? Bukankah surga, dan ridha-Nya, adalah tujuan utama setiap manusia? Sedangkan menikah, berkeluarga, hanyalah sarana. Ketika Allah menakdirkan kita untuk tetap lajang, sesungguhnya jika kita ridho, maka kita Allah telah memberikan beban yang lebih ringan untuk menuju surga.
6. Akan tetapi, menikah tetaplah harus diusahakan. Ikhtiar harus dioptimalkan. Maka para ikhwan, mari berusaha lebih kuat dalam mencari ma’isyah. Ayo bekerja lebih keras lagi dalam meng-up grade diri. Jangan bermalas-malasan. Lihatlah deretan para akhwat yang tengah menanti… kasihan sekali mereka karena antum seringkali terlalu banyak pertimbangan. Ayo bina para lelaki yang lain, agar mereka bisa seshaleh antum, karena bagaimanapun juga, populasi lelaki shaleh saat ini begitu sedikit dibanding perempuan shalihah. Dan para perempuan shalihah, ayo perkuat diri kita. Bersiaplah menjadi Ummu Sulaim-Ummu Sulaim baru, yang mampu menghijrahkan Abu Thalhah dan menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mahar pernikahan mereka. Dan wahai para murabbi dan murabbiyyah… marilah kita berpikir lebih keras… lebih keras dan lebih keras lagi… agar kita mampu mengikhtiarkan perjodohan saudara-saudari kita, dengan proses yang indah dan bersih.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Rabu, Februari 29, 2012
Berhati-hatilah dalam berucap…
Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah yang telah memberikan
berbagai nikmat kepada kita, kesehatan, keamanan, ketenangan, rizki berupa
makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, dan yang terpenting yaitu nikmat
iman. Sungguh, dalam setiap tarikan nafas, ada nikmat yang tak terhingga. Dari
mulai tidur, bangun dari tidur hingga tidur kembali, ada nikmat yang tiada
terkira.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang paling sempurna diantara makhluk lainnya. Sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala dalam Al quran:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam,
Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Israa’ : 70).
Namun demikian, kemuliaan manusia akan terjaga jika manusia
tersebut menggunakan segala kelebihan yang ada dalam dirinya secara seimbang
dan optimal sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Diantara kelebihan yang harus
kita jaga yaitu lisan (ucapan).
Seseorang yang mampu menjaga lisannya termasuk berjihad di
Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Sebaik-baik orang mukmin, atau sebaik-baik kaum mukminin
yang terbaik Islamnya adalah (ketika) orang muslim lainnya selamat dari lisan
dan tangannya. Orang mukmin yang paling utama adalah orang mukmin yang paling
baik akhlaknya. Orang muhajirin yang paling utama adalah orang yang berhijrah
dari apa-apa yang Allah larang. Dan jihad yang paling utama adalah orang yang
dapat melawan hawa nafsunya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Imam
Tabrani).
Salah satu cara kita untuk menjaga lisan yaitu dengan tidak
mengolok-olok orang lain, misalnya dengan memanggil seseorang dengan ‘sebutan’
yang tidak ia sukai. Sering kali kita lengah dengan memanggil orang lain sesuai
dengan keadaan fisik yang melekat padanya, misalnya kita memanggil teman kita
yang memiliki kulit gelap dengan ‘si hitam’, teman kita yang bertubuh pendek
kita panggil ‘si pendek’ … dengan ‘enteng’ kita memanggil teman kita TBC
(‘telinga banyak coroknya’ ). Sebutan tersebut mungkin kita anggap biasa, hanya
bercanda. Tetapi tahukah kita? Apa yang teman kita rasakan saat dia dipanggil
dengan sebutan seperti itu? Tak terpikirkah pada diri kita bahwa mungkin ia
telah tersakiti hatinya? Padahal dalam Al quran Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
melarang kita untuk memanggil dengan galar yang buruk.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum
mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita
(mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang
diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah
kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan
gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk
sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujuraat : 11).
Melalui ayat ini jelaslah bahwa perbuatan mengejek, mencela,
mencaci-maki seseorang, apalagi jika ia seorang muslim adalah termasuk
perbuatan zalim. Janganlah kita merasa diri kita lebih baik dari orang lain
dengan mengolok-olok, karena, bisa jadi orang yang kita olok-olok ternyata jauh
lebih baik dari kita.
Berhati-hatilah dalam berucap anakku…
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang berkata satu kalimat yang ia tidak
menganggap apa-apa, tetapi memasukkan ia sejauh tujuh puluh tahun ke dalam
neraka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Marilah kita menjaga lisan kita. Setiap ucapan yang keluar
dari lisan kita akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.
Ya Allah,
kami berlindung kepada Engkau dari kejahatan telinga kami, dari kejahatan
pendengaran kami, dan dari kejahatan penglihatan kami, dan dari kejahatan lisan
kami, dan dari kejahatan hati kami…Aamiin
Labels:
family,
saudariku...,
ya Robbi...
Minggu, Februari 26, 2012
ENGKAU TERBAIK UNTUKKU
Selain memberi nafkah dan mencari rezeki,
tanggungjawab suami juga bimbing anak dan isteri. Kalau suatu hari
berselisih faham, tahan menuding jari. Duduk bebincang dan cari kata
sepakat. Tiada bumi tak ditimpa hujan.
Berap ramai pasangan suami isteri hari ini bercerai di usia perkawinan yang masih muda. Mudah sekali menyatakan semuanya Takdir Tuhan, berpisah lantaran tiada lagi kesefahaman. Ikatan suci yang bermula dengan kasih dan cinta, berakhir dengan sengketa dan buruk sangka.
Saling memahami antara suami dan isteri bukan bisa dicapai sehari dua hari. Ia merupakan suatu perjalanan sepanjang usia perkawinan. Tantangan dan cobaan pastinya tidak sama, di awal, pertengahan dan di ujungnya. Sikap saling memberi dan menerima dipupuk. Memberi kelebihan diri untuk saling melengkapi. Menerima kekurangan untuk saling menginsyafi.
Memandang kelebihan pasangan daripada kekurangannya, insya Allah akan rasa sayang dan mempercayai seterusnya menghargainya.
Kaum wanita perkara remeh suamipun bisa jadi masalah besar, padahal bisa diatasi dengan cara berhikmah. Wanita, Allah jadikan peka dan perasa sedang lelaki sebaliknya, lebih fokuskan pada perkara yang besar dan isu yang lebih berat.
Isteri suka mengikuti emosi tanpa berfikir panjang. Cepat lupa kebaikan orang termasuk suami apabila berlaku sesuatu yang tidak mencapai kepuasan hati.
Fitrah manusia, dalam keadaan marah, sedikit sebanyak akan hilang pertimbangan. Menjaga keseimbangan hati, perasaan, dan pikiran, penting dalam menghadapi suatu ujian atau krisis, bukan saja dalam ujian rumah tangga tapi dalam masalah-masalah lain jua.
Adakalanya, isteri masam tanpa sepatah kata. Suami yang tidak tahu menahu, terus bersikap biasa. Maka isteri semakin masam, hilang cerianya. Menahan ego diri, ingin dipujuk dengan kata cinta, namun tidak berbicara dan bersemuka. Suami bertanya-tanya sendiri, akhirnya terasa hati. Salah siap kiranya, bila masing-masing memendam rasa. Kasih mulai bertukar marah. Marah marak menyala benci.
Ada suami yang tak pandai urusan rumah tangga, namun dia bijak berjenaka, memeriahkan suasana. Ada suami yang jarang menghadiahkan bunga, tapi selalu membelanjakan anak isteri dengan makanan istimewa. Dan banyak juga suami yang tidak biasa memujuk, bermain kata. Tapi mudah bertoleransi bila diminta bantu sini dan sana. Ketepikan kekurangannya dan ambil kelebihan. Pasti akan merasa bertuah memiliki pasangan hidup seperti “dia”. Senantiasa ‘memandang tinggi’ kehadiran pasangan kita.
Bukan hendak menuding jari pada salah satu semata-mata tanpa menyebut langsung silaf di pihak satunya. Bumi mana yang tidak tertimpa hujan, langit mana yang selalu cerah. Sedangkan lidah lagi tergigit, inikan pula sebagai manusia baik itu suami maupun seorang isteri yang asal dari latar berbeda.
Marilah kiranya menyusun jemari minta maaf dari lelaki benama suami/ wanita bernama isteri. Usak bertangguh lengah. Pandang wajahnya. Lihat matanya. Bisikan disanubari, “Terima kasih kekasihku. Engkau terbaik untiukku.”
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=290507837682582&set=a.244521135614586.58029.153300751403292&type=1
Berap ramai pasangan suami isteri hari ini bercerai di usia perkawinan yang masih muda. Mudah sekali menyatakan semuanya Takdir Tuhan, berpisah lantaran tiada lagi kesefahaman. Ikatan suci yang bermula dengan kasih dan cinta, berakhir dengan sengketa dan buruk sangka.
Saling memahami antara suami dan isteri bukan bisa dicapai sehari dua hari. Ia merupakan suatu perjalanan sepanjang usia perkawinan. Tantangan dan cobaan pastinya tidak sama, di awal, pertengahan dan di ujungnya. Sikap saling memberi dan menerima dipupuk. Memberi kelebihan diri untuk saling melengkapi. Menerima kekurangan untuk saling menginsyafi.
Memandang kelebihan pasangan daripada kekurangannya, insya Allah akan rasa sayang dan mempercayai seterusnya menghargainya.
Kaum wanita perkara remeh suamipun bisa jadi masalah besar, padahal bisa diatasi dengan cara berhikmah. Wanita, Allah jadikan peka dan perasa sedang lelaki sebaliknya, lebih fokuskan pada perkara yang besar dan isu yang lebih berat.
Isteri suka mengikuti emosi tanpa berfikir panjang. Cepat lupa kebaikan orang termasuk suami apabila berlaku sesuatu yang tidak mencapai kepuasan hati.
Fitrah manusia, dalam keadaan marah, sedikit sebanyak akan hilang pertimbangan. Menjaga keseimbangan hati, perasaan, dan pikiran, penting dalam menghadapi suatu ujian atau krisis, bukan saja dalam ujian rumah tangga tapi dalam masalah-masalah lain jua.
Adakalanya, isteri masam tanpa sepatah kata. Suami yang tidak tahu menahu, terus bersikap biasa. Maka isteri semakin masam, hilang cerianya. Menahan ego diri, ingin dipujuk dengan kata cinta, namun tidak berbicara dan bersemuka. Suami bertanya-tanya sendiri, akhirnya terasa hati. Salah siap kiranya, bila masing-masing memendam rasa. Kasih mulai bertukar marah. Marah marak menyala benci.
Ada suami yang tak pandai urusan rumah tangga, namun dia bijak berjenaka, memeriahkan suasana. Ada suami yang jarang menghadiahkan bunga, tapi selalu membelanjakan anak isteri dengan makanan istimewa. Dan banyak juga suami yang tidak biasa memujuk, bermain kata. Tapi mudah bertoleransi bila diminta bantu sini dan sana. Ketepikan kekurangannya dan ambil kelebihan. Pasti akan merasa bertuah memiliki pasangan hidup seperti “dia”. Senantiasa ‘memandang tinggi’ kehadiran pasangan kita.
Bukan hendak menuding jari pada salah satu semata-mata tanpa menyebut langsung silaf di pihak satunya. Bumi mana yang tidak tertimpa hujan, langit mana yang selalu cerah. Sedangkan lidah lagi tergigit, inikan pula sebagai manusia baik itu suami maupun seorang isteri yang asal dari latar berbeda.
Marilah kiranya menyusun jemari minta maaf dari lelaki benama suami/ wanita bernama isteri. Usak bertangguh lengah. Pandang wajahnya. Lihat matanya. Bisikan disanubari, “Terima kasih kekasihku. Engkau terbaik untiukku.”
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=290507837682582&set=a.244521135614586.58029.153300751403292&type=1
Labels:
family,
saudariku...,
ya Robbi...
Sabtu, Februari 18, 2012
MENANGISLAH ...
Menangislah Saudaraku ...
Ketika diri tidak ringan bergerak dalam berbuat taat...
Menangislah ..
Ketika kenikmatan dunia senantiasa menghujani namun amal soleh tidak berbanding lurus dan meningkat dengan kenikmatan yang diterima. Dimanakah letak kurangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita? Kita senantiasa menuntut hak kita terhadap Allah SWT, namun rasa syukur kita ketika mendapat nikmat-Nya tak pernah kita tunjukan dihadapan-Nya walau hanya sekedar ucapan “Alhamdulillah”.
Kita malah terlupa dan kadang lupa diri, bahwa apapun nikmat yang kita terima sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Terkadang, kebanyakan dari kita hanya ingat kepada-Nya sewaktu diri tertimpa musibah dan kesempitan dalam hidup. Padahal, dengan mengingat Allah SWT disaat lapang dan kebahagiaan hidup menghampiri akan mendatangkan kecintaan Allah SWT dan insya Alloh di saat kesusahan menghampiri kehidupan, Allah SWT akan berbalik mengingat kita...
Menangislah ..
Untuk mengharapkan datangnya pertolongan Allah SWT terhadap diri kita, sehingga Dia mengaruniakan kekuatan dan pertolongan untuk memudahkan kita dalam rangka mendekat kepada-Nya.
Menangislah ..
Untuk setiap dosa yang pernah kita rajut dalam kehidupan walau kita tak akan mampu menghitung betapa besarnya keingkaran diri melebihi ketaatan kita kepada-Nya.
Pernahkah kita menangis atas kurangnya bekal persiapan untuk akhirat kita? Tempat yang kekal dan tujuan puncak kehidupan yang bekalnya kita persiapkan melalui dunia ini.
Menangislah ..
Sebagai tanda kelembutan dan hidupnya hati yang senantiasa siap untuk menerima nasehat dan kebenaran yang datang.
Menangislah saudaraku ..
karena Allah .. dan hanya untuk Allah semata ...
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan-Nya serta menjauhkan kita dari sifat tercela ...Aamin ya Rahman ya Rahim ..
karena tanpa pertolongan dan Rahmat Nya , tak seorangpun mampu melakukan kebajikan di atas permukaan bumi ini..
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.285295444870488.65934.153300751403292&type=1
Ketika diri tidak ringan bergerak dalam berbuat taat...
Menangislah ..
Ketika kenikmatan dunia senantiasa menghujani namun amal soleh tidak berbanding lurus dan meningkat dengan kenikmatan yang diterima. Dimanakah letak kurangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita? Kita senantiasa menuntut hak kita terhadap Allah SWT, namun rasa syukur kita ketika mendapat nikmat-Nya tak pernah kita tunjukan dihadapan-Nya walau hanya sekedar ucapan “Alhamdulillah”.
Kita malah terlupa dan kadang lupa diri, bahwa apapun nikmat yang kita terima sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Terkadang, kebanyakan dari kita hanya ingat kepada-Nya sewaktu diri tertimpa musibah dan kesempitan dalam hidup. Padahal, dengan mengingat Allah SWT disaat lapang dan kebahagiaan hidup menghampiri akan mendatangkan kecintaan Allah SWT dan insya Alloh di saat kesusahan menghampiri kehidupan, Allah SWT akan berbalik mengingat kita...
Menangislah ..
Untuk mengharapkan datangnya pertolongan Allah SWT terhadap diri kita, sehingga Dia mengaruniakan kekuatan dan pertolongan untuk memudahkan kita dalam rangka mendekat kepada-Nya.
Menangislah ..
Untuk setiap dosa yang pernah kita rajut dalam kehidupan walau kita tak akan mampu menghitung betapa besarnya keingkaran diri melebihi ketaatan kita kepada-Nya.
Pernahkah kita menangis atas kurangnya bekal persiapan untuk akhirat kita? Tempat yang kekal dan tujuan puncak kehidupan yang bekalnya kita persiapkan melalui dunia ini.
Menangislah ..
Sebagai tanda kelembutan dan hidupnya hati yang senantiasa siap untuk menerima nasehat dan kebenaran yang datang.
Menangislah saudaraku ..
karena Allah .. dan hanya untuk Allah semata ...
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan-Nya serta menjauhkan kita dari sifat tercela ...Aamin ya Rahman ya Rahim ..
karena tanpa pertolongan dan Rahmat Nya , tak seorangpun mampu melakukan kebajikan di atas permukaan bumi ini..
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.285295444870488.65934.153300751403292&type=1
Labels:
family,
saudariku...,
ya Robbi...
Langganan:
Postingan (Atom)