Rabu, Februari 29, 2012

Berhati-hatilah dalam berucap…

  
Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai nikmat kepada kita, kesehatan, keamanan, ketenangan, rizki berupa makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, dan yang terpenting yaitu nikmat iman. Sungguh, dalam setiap tarikan nafas, ada nikmat yang tak terhingga. Dari mulai tidur, bangun dari tidur hingga tidur kembali, ada nikmat yang tiada terkira.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling sempurna diantara makhluk lainnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al quran:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Israa’ : 70).
Namun demikian, kemuliaan manusia akan terjaga jika manusia tersebut menggunakan segala kelebihan yang ada dalam dirinya secara seimbang dan optimal sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Diantara kelebihan yang harus kita jaga yaitu lisan (ucapan).
Seseorang yang mampu menjaga lisannya termasuk berjihad di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik orang mukmin, atau sebaik-baik kaum mukminin yang terbaik Islamnya adalah (ketika) orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Orang mukmin yang paling utama adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya. Orang muhajirin yang paling utama adalah orang yang berhijrah dari apa-apa yang Allah larang. Dan jihad yang paling utama adalah orang yang dapat melawan hawa nafsunya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Imam Tabrani).
Salah satu cara kita untuk menjaga lisan yaitu dengan tidak mengolok-olok orang lain, misalnya dengan memanggil seseorang dengan ‘sebutan’ yang tidak ia sukai. Sering kali kita lengah dengan memanggil orang lain sesuai dengan keadaan fisik yang melekat padanya, misalnya kita memanggil teman kita yang memiliki kulit gelap dengan ‘si hitam’, teman kita yang bertubuh pendek kita panggil ‘si pendek’ … dengan ‘enteng’ kita memanggil teman kita TBC (‘telinga banyak coroknya’ ). Sebutan tersebut mungkin kita anggap biasa, hanya bercanda. Tetapi tahukah kita? Apa yang teman kita rasakan saat dia dipanggil dengan sebutan seperti itu? Tak terpikirkah pada diri kita bahwa mungkin ia telah tersakiti hatinya? Padahal dalam Al quran Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang kita untuk memanggil dengan galar yang buruk.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujuraat : 11).
Melalui ayat ini jelaslah bahwa perbuatan mengejek, mencela, mencaci-maki seseorang, apalagi jika ia seorang muslim adalah termasuk perbuatan zalim. Janganlah kita merasa diri kita lebih baik dari orang lain dengan mengolok-olok, karena, bisa jadi orang yang kita olok-olok ternyata jauh lebih baik dari kita.
Berhati-hatilah dalam berucap anakku…
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang berkata satu kalimat yang ia tidak menganggap apa-apa, tetapi memasukkan ia sejauh tujuh puluh tahun ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Marilah kita menjaga lisan kita. Setiap ucapan yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.
Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kejahatan telinga kami, dari kejahatan pendengaran kami, dan dari kejahatan penglihatan kami, dan dari kejahatan lisan kami, dan dari kejahatan hati kami…Aamiin

Minggu, Februari 26, 2012

ENGKAU TERBAIK UNTUKKU

Selain memberi nafkah dan mencari rezeki, tanggungjawab suami juga bimbing anak dan isteri. Kalau suatu hari berselisih faham, tahan menuding jari. Duduk bebincang dan cari kata sepakat. Tiada bumi tak ditimpa hujan.

Berap ramai pasangan suami isteri hari ini bercerai di usia perkawinan yang masih muda. Mudah sekali menyatakan semuanya Takdir Tuhan, berpisah lantaran tiada lagi kesefahaman. Ikatan suci yang bermula dengan kasih dan cinta, berakhir dengan sengketa dan buruk sangka.
Saling memahami antara suami dan isteri bukan bisa dicapai sehari dua hari. Ia merupakan suatu perjalanan sepanjang usia perkawinan. Tantangan dan cobaan pastinya tidak sama, di awal, pertengahan dan di ujungnya. Sikap saling memberi dan menerima dipupuk. Memberi kelebihan diri untuk saling melengkapi. Menerima kekurangan untuk saling menginsyafi.

Memandang kelebihan pasangan daripada kekurangannya, insya Allah akan rasa sayang dan mempercayai seterusnya menghargainya.

Kaum wanita perkara remeh suamipun bisa jadi masalah besar, padahal bisa diatasi dengan cara berhikmah. Wanita, Allah jadikan peka dan perasa sedang lelaki sebaliknya, lebih fokuskan pada perkara yang besar dan isu yang lebih berat.

Isteri suka mengikuti emosi tanpa berfikir panjang. Cepat lupa kebaikan orang termasuk suami apabila berlaku sesuatu yang tidak mencapai kepuasan hati.
Fitrah manusia, dalam keadaan marah, sedikit sebanyak akan hilang pertimbangan. Menjaga keseimbangan hati, perasaan, dan pikiran, penting dalam menghadapi suatu ujian atau krisis, bukan saja dalam ujian rumah tangga tapi dalam masalah-masalah lain jua.

Adakalanya, isteri masam tanpa sepatah kata. Suami yang tidak tahu menahu, terus bersikap biasa. Maka isteri semakin masam, hilang cerianya. Menahan ego diri, ingin dipujuk dengan kata cinta, namun tidak berbicara dan bersemuka. Suami bertanya-tanya sendiri, akhirnya terasa hati. Salah siap kiranya, bila masing-masing memendam rasa. Kasih mulai bertukar marah. Marah marak menyala benci.

Ada suami yang tak pandai urusan rumah tangga, namun dia bijak berjenaka, memeriahkan suasana. Ada suami yang jarang menghadiahkan bunga, tapi selalu membelanjakan anak isteri dengan makanan istimewa. Dan banyak juga suami yang tidak biasa memujuk, bermain kata. Tapi mudah bertoleransi bila diminta bantu sini dan sana. Ketepikan kekurangannya dan ambil kelebihan. Pasti akan merasa bertuah memiliki pasangan hidup seperti “dia”. Senantiasa ‘memandang tinggi’ kehadiran pasangan kita.

Bukan hendak menuding jari pada salah satu semata-mata tanpa menyebut langsung silaf di pihak satunya. Bumi mana yang tidak tertimpa hujan, langit mana yang selalu cerah. Sedangkan lidah lagi tergigit, inikan pula sebagai manusia baik itu suami maupun seorang isteri yang asal dari latar berbeda.
Marilah kiranya menyusun jemari minta maaf dari lelaki benama suami/ wanita bernama isteri. Usak bertangguh lengah. Pandang wajahnya. Lihat matanya. Bisikan disanubari, “Terima kasih kekasihku. Engkau terbaik untiukku.”

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=290507837682582&set=a.244521135614586.58029.153300751403292&type=1

Sabtu, Februari 18, 2012

MENANGISLAH ...

Menangislah Saudaraku ...

Ketika diri tidak ringan bergerak dalam berbuat taat...


Menangislah ..

Ketika kenikmatan dunia senantiasa menghujani namun amal soleh tidak berbanding lurus dan meningkat dengan kenikmatan yang diterima. Dimanakah letak kurangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita? Kita senantiasa menuntut hak kita terhadap Allah SWT, namun rasa syukur kita ketika mendapat nikmat-Nya tak pernah kita tunjukan dihadapan-Nya walau hanya sekedar ucapan “Alhamdulillah”.


Kita malah terlupa dan kadang lupa diri, bahwa apapun nikmat yang kita terima sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Terkadang, kebanyakan dari kita hanya ingat kepada-Nya sewaktu diri tertimpa musibah dan kesempitan dalam hidup. Padahal, dengan mengingat Allah SWT disaat lapang dan kebahagiaan hidup menghampiri akan mendatangkan kecintaan Allah SWT dan insya Alloh di saat kesusahan menghampiri kehidupan, Allah SWT akan berbalik mengingat kita...



Menangislah ..

Untuk mengharapkan datangnya pertolongan Allah SWT terhadap diri kita, sehingga Dia mengaruniakan kekuatan dan pertolongan untuk memudahkan kita dalam rangka mendekat kepada-Nya.



Menangislah ..

Untuk setiap dosa yang pernah kita rajut dalam kehidupan walau kita tak akan mampu menghitung betapa besarnya keingkaran diri melebihi ketaatan kita kepada-Nya.

Pernahkah kita menangis atas kurangnya bekal persiapan untuk akhirat kita? Tempat yang kekal dan tujuan puncak kehidupan yang bekalnya kita persiapkan melalui dunia ini.


Menangislah ..

Sebagai tanda kelembutan dan hidupnya hati yang senantiasa siap untuk menerima nasehat dan kebenaran yang datang.


Menangislah saudaraku ..
karena Allah .. dan hanya untuk Allah semata ...



Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan-Nya serta menjauhkan kita dari sifat tercela ...Aamin ya Rahman ya Rahim ..
karena tanpa pertolongan dan Rahmat Nya , tak seorangpun mampu melakukan kebajikan di atas permukaan bumi ini..

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.285295444870488.65934.153300751403292&type=1

ISTIKHARAH CINTA ͺͺͺͺͺͺͺͺͺͺ

Yaa Allah, yaa Rabbi... demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Mu, bukannya aku tak percaya akan janji-Mu, aku teramat yakin atas janji-Mu, karena itu adalah sebuah kepastian. Jikalau memang telah Engkau catatkan dia tercipta buatku... Seandainya telah Engkau gariskan dia menjadi pendamping ku... Maka jodohkanlah kami, Satukanlah hatinya dengan hatiku. Selipkanlahlah kebahagiaan di antara kami, Agar kemesraan itu terjadi dan abadi. Tetapi... Yaa Allah, yaa Ilahi... Jikalau memang telah Engkau tetapkan dia bukan untuk ku Seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan Ibu/ayah dari anak-anakku... Bawalah dia pergi jauh dari pandanganku, Hapuskanlah dia dari ingatanku, Dan serta periharalah daku dari kekecewaan ini. Yaa Allah, Yang Maha Mengerti... Berikanlah aku kekuatan, Menolak bayangannya jauh sejauh-jauhnya dari lubuk hati, Agar daku senantiasa tenang dan senang, Walaupun tak bersanding dengannya di pelaminan. Karena ku yakin, Engkau akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik... Yaa Allah, Yang Maha Cinta... Ku pasrahkan hidup dan kehidupanku pada Qadla dan Qadhar-Mu. Cukuplah hanya Engkau yang menjadi pemeliharaku, di dunia dan akhirat... Dengarkanlah rintihan hati dari hamba-Mu yang dhaif ini, Dengarkanlah goresan hati dari hamba-Mu yang naif ini, Jangan Engkau biarkan daku sendirian, di dunia ini maupun di akhirat... Dan karuniakanlah kepadaku keturunan yang shaleh dan shalehah, Keturunan yang siap menjadi Pencinta Mu dan menegakkan syiar agama Mu Yaa Allah, yaa Arhamar Rahimiin... Perkenankanlah... Kabulkan... Amiin... Amin... Yaa Rabbal ‘Alamiin..

Jumat, Februari 03, 2012

MENCINTAI DALAM HENING

Duhai gadis..
maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah..?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..

Maka dengarlah..
Gadis..Saat ku jatuh cinta..Tak akan ku berucap..Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..

Saat ku mencintai..takkan pernah ku menyatakan..Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..

Aku tahu..cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan..Karena rasa itu adalah cahaya..

Aku tahu..hidup tanpa cinta..bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa..maka hadapi dgn anggun..
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi..dengan begitu banyak warna...

Cinta terkadang mebuatmu bahagia..namun tak jarang mbuatmu menderita..
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula..Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir..
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku..maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita..

Maka gadis..
Agar kau dapat keluar dari belenggu itu..Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening..Dalam diam..
Tak perlu kau lari..tak perlu kau hindari..
Namun juga..jangan kau sikapi dgn berlebihan..
Jangan kau umbar rasamu..Jangan kau tumpahkan segala sukamu..

Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan? ..Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia..Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya..?
Jadi..apa yang kau risaukan..? Biarkan Allah yg mengaturnya..
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..

Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta..belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja..yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam..
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu..?

Gadis..kita tak tahu dan tak akan pernah tahu Hingga saatnya tiba..
Maka ku ingatkan padamu..
tidakkah kau malu jika semua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya..?

Gadis..Karena cintamu begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..Begitu sakral untuk di tumpahkan..

Dan sadarilah gadis..
fitrahmu wanita adalah pemalu..Dan kau indah karena sifat malumu..
jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..

Maka cintailah dalam hening...
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu..Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..Agar keanggunanmu tetap terbias..

Maka ku beritahukan padamu..
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan..bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan..hanya cukup kau arahkan..

Gadis...
yang kau butuhkan hanya waktu..sabar dan percaya..
Maka..peganglah kendali hatimu..Lalu Arahkan pada-Nya..
Dan cintailah dalam diam..Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..Jauh lebih suci..

Sabtu, Januari 21, 2012

Perempuan Cahaya...

Engkaulah perempuan cahaya..

Ibadahmu tercurah atasNya. Kau tutup auratmu demi kesungguhan penghambaanmu terhadapNya. Bukan hanya sebagai pemanis dirimu saja,bukan hanya sebagai trend semata,bukan hanya karna takut dis ebut Kuper.

Kau sangat anggun dengan jilbabmu,tanpa harus mengikat krudungmu ke leher sampai engkau sulit bernafas. Kau sangat cantik dengan jilbab mu yang tergerai indah,tapa harus menonjolkan auratmu. Kau sangat indah,tanpa harus kau perlihatkan pada dunia keindahan tubuhmu.

Engkaulah Perempuan Cahaya..

Patuhmu terhadap Sang Kekasih,kau aplikasikan terhadap suamimu.

Kau balut kepatuhanmu dengan kesantunan. Kau hilangkan rasa malu ketika berduaan dengan suamimu,tapi kau bungkus dirimu dengan rasa malu ketika kau keluar rumah.

Sungguh,kepatuhanmu selain ibadahmu adalh pengantarmu untuk menghadap Sang Kekasih sejati.

Engkau lah perempuan cahaya..

Penghambaan terhadap Sang Maha Penyayang,kau tunjukkan dengan kasih sayangmu terhadap sesama.

Sedekah mu tak pernah kau ingkar. Tutur katamu selalu teruntaikan nasehat. Bahasamu penuh kelembutan tapi kokoh bagai karang. Gerakmu kau pastikan untuk kemanfaatan. Matamu tertuju pada kebenebaran.

Sungguh hatimu pun telah terisi penuh penghambaan terhadapNya.

Engkaulah Perempuan Cahaya..

Sikap berserah membuatmu senantiasa tercerah,penuh cahaya keindahan. Sikap bersandar padaNya senantiasa membuatmu tersadar,tak akan selamanya kau hidup di dunia.

Keyakinanmu melahirkan sikap yang senantiasa menyadari bahwa hanya Dia yang kekal,sedangkan dirimu dan alam ini terus menerus berubah atas kehendakNya.

Engkaulah Perempuan Cahaya..

Kau jaga keimananmu dengan air mata pengharapan. Kau kerap takut terlalaikan akan kebahagiaan yang terhampar di depanmu. Kau kerap menggigil saat hatimu di terobos nafsu syetan,nafsu selalu terhenti untuk menikamti segala yang semu dan palsu.

Sungguh,kau jaga keimananmu meski air matamu telah mengering.
 
http://www.facebook.com/pages/Bukan-Muslimah-Biasa/111818832202075 

MOTIVASI UNTUK DAPAT ISTIQOMAH DENGAN AL QU'RAN

Sahabat yang dirahmati Allah,

Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah berinteraksi dengan Al Qu'ran. Nikmat membaca kalam - kalam NYA , nikmatnya merasakan seakan-akan kita berbicara dengan NYA, nikmat merasakan Al Qur'an mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita , nikmatnya Al Qur'an menjadi petunjuk pembeda antara yang haq dan yang batil, serta nikmat syafaat kelak bagi sesiapa yang ikhlas senantiasa membaca & bersahabat dengan AL Qur'an. (Insya Allah)



Untuk memulai langkah mencintai Al Qur'an . Berikut upaya-upaya jiwa untuk mampu senantiasa bersahabat dengan nya :



I MENDAMBAKAN AL QUR'AN SEBAGAI KENIKMATAN SEPERTI KITA MENDAMBAKAN HARTA


“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)


Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya - misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat mendambakannya.


Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.



Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:


1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?


Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.


2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).

Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)


3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.


“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)


4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”


5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)


Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?

Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.


Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah




II. MERAYU ( MEMOTIVASI) DIRI/JIWA SENDIRI AGAR MENCINTAI AL QUR'AN



“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)


Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?


Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.



Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:


1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.


2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.


3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.


4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.


5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.


6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.


7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.


8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.




Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:


1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah Swt?

Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?


2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.


3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?


4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.


5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.


6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?


Ungkapan di atas adalah perenungan bagi setiap jiwa, agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna...


“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)



Semoga Allah memberi kemampuan bagi kita semua ...
Aamiin yaa Robbal Alamiin,,




oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz
Wallahu'alam

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=265426910190675&set=a.265426080190758.62637.153300751403292&type=3&theater